Penjelasan Surat Al-Fatihah Ayat 2-3
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ١
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ٢ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ ٣ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ ٤ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ ٥ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ٦ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَࣖ ٧
الرحمن الرحيم : اسمان من أسمائه تعالى مشتقان من الرحمة، ومعنى الرحمن : المنعم بجلائل النعم، ومعنى الرحيم : المنعم بدقائقها
Kata ‘Al-Rahman – Al-Rahim’: Merupakan dua nama dari nama-nama Allah Swt., yang terbentuk dari kata ‘Al-Rahmah’. Adapun makna dari ‘Al-Rahman’ ialah Pemberi Nikmat Seagung-agungnya Nikmat. Sementara makna ‘Al-Rahim’ ialah Pemberi Nikmat Sehalus-halus dan sedetail-detailnya.
ولفظ (الرحمن) مبنيّ على المبالغة، ومعناه: ذو الرحمة التي لا نظير له فيها، لأن بناء (فعلان) في كلامهم للمبالغة، فإنهم يقولون للشديد الامتلاء: ملآن، وللشديد الشبَع: شبعان
Kata ‘Al-Rahman’, secara bentuk kata dibentuk dengan makna intensitas (mubalaghah), dan maknanya adalah pemilik rahmat yang tiada tandingannya, karena bentuk wazan ‘fa’lanu (فعلان) menurut ucapan mereka (orang Arab) menunjukkan makna intensitas – sangat berlebihan (mubalaghah), maka sesungguhnya mereka sedang menyebut untuk keadaan sangat penuh: ‘mal’ān’ (penuh sekali), dan untuk keadaan sangat kenyang: ‘syab’ān’ (kenyang sekali).”
قال الخطّابي : ف (الرحمن) ذو الرحمة الشاملة التي وسعت الخلق في أرزاقهم ومصالحهم، وعمّت المؤمن والكافر. و(الرحيم) خاص للمؤمنين كما قال تعالى : (وَكَانَ بالمؤمنين رَحِيمًا)
Pendapat Al-Khattabi: Makna dari kata ‘al-rahman’ adalah Pemilik Rahmat yang menyeluruh – meliputi seluruh makhluk dalam urusan rezeki dan kepentingan mereka, dan berlaku bagi orang-orang mukmin dan kafir.
Adapun kata ‘Al-Rahim’ khusus bagi orang-orang mukmin, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman : ‘Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang mukmin.’
ولا يجوز إطلاق اسم (الرحمن) على غير الله تعالى لأنه مختص به جلّ وعلا، بخلاف الرحيم فإنه يطلق على المخلوق أيضًا قال تعالى : (بالمؤمنين رَءُوفٌ رَّحِيمٌ)
Tidak boleh menyebut nama ‘al-rahman’ kepada selain Allah Ta’ala, karena nama tersebut khusus bagi Allah Yang Maha Agung Lagi Maha Mulia. Berbeda dengan nama ‘al-rahim’, sesungguhnya nama itu boleh digunakan untuk makhluk juga. Allah Ta’ala berfirman: ‘Terhadap orang-orang mukmin, ia sangat penyantun dan penyayang.’
قال القرطبي : (( وأكثرُ العلماء على أن الرحمن مختصّ بالله عز وجل، لا يجوز أن يسمّى به غيره، ألا تراه قال: (قُلِ ادعوا الله أَوِ ادعوا الرحمن) فعادَل الاسم الذي لا يَشْركه فيه غيره : (أَجَعَلْنَا مِن دُونِ الرحمن آلِهَةً يُعْبَدُونَ) فأخبر الرحمن هو المستحق للعبادة جلّ وعزّ، وقد تجاسر (مسيلمة الكذاب) لعنه الله فتسمى ب (رحمان اليمامة) ولم يتسمّ به حتى قرع مسامَعه نعت الكذّاب، فألزمه الله ذلك حتى صار هذا الوصف لمسيلمة عَلَمًا يُعرف به. ))
Pendapat imam Al-Qurthubi: Mayoritas ulama bersepakat bahwa kata ‘Al-Rahman’ dikhususkan bagi Allah Yang Maha Mulia Lagi Maha Agung, tidak boleh disebutkan untuk selain-Nya. Tidakkah kamu melihatnya, bahwa Dia telah berfirman: ‘Katakanlah (Muhammad), serulah Allah atau serulah al-Rahman’. Maka Dia menyamakan nama nama yang tidak seorang pun menyekutuinya: ‘Apakah kami menjadikan selain Al-Rahman sebagai tuhan-tuhan yang disembah?’, kemudian diberitakan bahwa Al-Rahman, Dialah satu-satunya Yang Patut Disembah, Maha Suci Lagi Maha Mulia. Dan, sungguh Musailamah al-Kazzab (semoga Allah melaknatnya) telah lancang menyebut dirinya dengan sebutan ‘Rahman al-Yamamah’. Dia tidak dikenal dengan nama itu sampai julukan ‘pendusta’ terdengar di telinganya, kemudian Allah menetapkan julukan tersebut kepadanya hingga nama yang terkenal dan melekat padanya.
يوم الدين : يوم الجزاء والحساب، أي أنه سبحانه المتصرف في يوم الدين، تصرف المالك في ملكه، والدين في اللغة : الجزاء، ومنه قوله عليه السلام : (إفعل ما شئت كما تدين تدان) أي كما تفعل تجزى.
Frasa ‘Yaum ad-Din’: adalah hari pembalasan dan perhitungan (hisab). Artinya, Allah Swt adalah satu-satunya yang berkuasa penuh pada hari tersebut, sebagaimana seorang pemilik yang berkuasa atas miliknya. Sementara kata ad-din sendiri, secara bahasa (etimologi) yaitu pembalasan, seperti sabda Nabi Muhammad saw: “Lakukanlah apa yang kamu kehendaki, karena sebagaimana kamu membalas, kamu akan dibalas.”
قال في (اللسان): والدينُ : الجزاء والمكافأة، ويومُ الدين : يوم الجزاء، وقوله تعالى : ﴿أَإِنَّا لَمَدِينُونَ﴾ أي مجزيّون محاسبون، ومنه الديّان في صفة الله عز وجل قال لبيد :
حصادك يومًا ما زرعت وإنما # يُدان الفتى يومًا كما هو دائن
Menurut kamus Al-Lisan: ad-din artinya pembalasan, dan, yaum ad-din memiliki arti hari pembalasan. Allah Swt telah berfirman, “Apakah benar kita akan dibalas dan diperhitungkan (atas perbuatan kita)?”. Dari kata itu pula timbul sifat Allah ad-Dayyān’ (الديّان), Tuhan Yang Maha Membalas, Maha Menghisab. Labid, seorang penyair pernah mengatakan dalam syiirnya:
Panenmu kelak adalah apa yang kau tanam # Seorang pemuda akan dibalas suatu hari sebagaimana ia pernah membalas.
Santri asal Bandung, namun lebih lama hidup di kotanya orang. Lebih tepatnya, pada pertengahan tahun 2016, ia berunjuk gigi di hadapan publik dengan keberadaannya di ujung timur pulau Jawa.
Soal sekarang, Alhamdulillah masih duduk di bangku yang tidak umumnya orang duduki. Maksudnya, status masih pelajar tingkat Ma'had Aly di Pondok Pesantren Al-Khoirot dan belum menikah.
Kebetulan, dia juga sedang menempuh studi S1 di Universitas Al-Qolam Malang, jika malas baca bisa disingkat menjadi UQM, begitu katanya.
Itu saja mungkin, selebihnya bisa berkunjung ke rumahnya.