KeislamanTerjemahan Kitab

Penjelasan Surat Al-Fatihah Ayat 6-7

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۝١

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ۝٢ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ ۝٣ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ ۝٤ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ ۝٥ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ۝٦ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَࣖ ۝٧

اهدنا: فعل دعاء ومعناه: دلّنا على الصراط المستقيم، وأرشدنا إليه، وأرنا طريق هدايتك الموصلة إلى أنْسك وقُربك.

Ihdina (tunjukilah kami): merupakan kata doa yang artinya ‘tunjukkanlah kami jalan yang lurus, bimbinglah kami kepadanya, dan perlihatkanlah kepada kami jalan petunjuk-Mu yang mengantarkan kepada kedekatan dan keakraban dengan-Mu.’”

والهداية في اللغة: تأتي بمعنى الدلالة كقوله تعالى: ﴿وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فاستحبوا العمى عَلَى الهدى﴾. وتأتي بمعنى الإرشاد وتمكين الإيمان في القلب كما قال تعالى: ﴿إِنَّكَ لاَ تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ ولكن الله يَهْدِي مَن يَشَآءُ …

“Dan, al-Hidayah secara etimologi (bahasa) memiliki arti ‘petunjuk’, seperti firman Allah Swt., :‘Adapun kaum Tsamud, maka Kami telah menunjukkan mereka, tetapi mereka lebih menyukai buta daripada petunjuk’. Hidayah juga bermakna ‘bimbingan’ dan ‘menanamkan imam dalam hati’, sebagaimana firman Allah taala: ‘Sesungguhnya Engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang Engkau cintai, akan tetapi Allah-lah yang akan memberikan petunjuk kepada siapapun yang Dia kehendaki.”

فالرسول ﷺ َ هادٍ بمعنى أنه دالّ على الله ﴿وَإِنَّكَ لتهدي إلى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ﴾ ولكنه لا يضع الإيمان في قلب الإنسان. وفعل هدى يتعدى ب (إلى) وب (اللام) كقوله تعالى: ﴿فاهدوهم إلى صِرَاطِ الجحيم﴾ وقوله: ﴿الحمد للَّهِ الذي هَدَانَا لهذا﴾ وقد يتعدّى بنفسه كما هنا ﴿اهدنا الصراط﴾

“Rasulullah ﷺ adalah pemberi petunjuk dalam arti menunjukkan manusia kepada Allah, sebagaimana firman-Nya: ‘Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus’. (Namun beliau tidaklah menanamkan iman ke dalam hati manusia. Kata kerja ‘hada’ (memberi petunjuk) bisa digunakan dengan kata sambung ila (kepada) maupun lam (untuk), seperti firman Allah: ‘Maka tuntunlah mereka ke jalan neraka’, dan firman-Nya: ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada kami untuk ini’. Kata kerja itu juga bisa langsung digunakan tanpa tambahan, sebagaimana dalam ayat: ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus’.

الصراط المستقيم: الصّراط: الطريقُ، وأصله بالسين (السّراط) من الاستراط بمعنى الابتلاع، سميّ بذلك لأنّ الطريق كأنه يبتلع السالك.

As-Ṣirāṭ: jalan; asal katanya dengan huruf sīn (as-sirāṭ) dari kata al-istirāṭ yang berarti menelan. Disebut demikian karena jalan itu seakan-akan menelan orang yang berjalan di atasnya.

قال الجوهري: الصّراط، والسّراط، والزّراط: الطريق قال الشاعر:

وأحملهم على وَضِح الصّراط … أي على وضح الطريق.

Imam Al-Jauhari berkata: kata As-Ṣhirāṭ, As-Ṣirāṭ, Az-Zarāt, ketiganya memiliki makna yang sama, yakni jalan (At-Thariq). Penyair telah berkata:

“Dan aku menuntun mereka di atas jalan yang jelas … yakni di atas jalan yang terang.”

قال القرطبي: أصلُ الصراط في كلام العرب: الطريق، قال الشاعر:

شحنّا أرضهم بالخيل حتّى … تركناهم أذلّ من الصراط

Imam Al-Qurtubi berkata: asal kata As-Ṣhirāṭ dalam ucapan orang Arab adalah At-Thariq. Penyair telah berkata:

“Kami memenuhi tanah mereka dengan kuda hingga … kami tinggalkan mereka lebih hina daripada jalan (yang dilalui).”

والعرب تستعير (الصراط) لكل قولٍ أو عملٍ وصف باستقامةٍ أو اعوجاج، والمراد به هنا ملّة الإسلام.

المستقيم: الذي لا عوج فيه ولا انحراف، ومنه قوله تعالى: ﴿وَأَنَّ هذا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فاتبعوه …﴾ وكلّ ما ليس فيه اعوجاج يسمّى مستقيمًا.

ومعنى الآية: ثبّتنا يا ألله على الإيمان، ووفقنا لصالح الأعمال، واجعلنا ممن سلك طريق الإسلام، الموصل إلى جنّات النعيم.

Orang Arab menggunakan kata As-Ṣhirāṭ sebagai kiasan untuk setiap ucapan atau perbuatan yang bersifat lurus atau bengkok. Yang dimaksud dalam konteks ini adalah agama Islam.

Al-Mustaqim: yaitu sesuatu yang tidak memiliki kebengkokan dan juga penyelewengan. Termasuk dalam konteks ini terdapat firman Allah Swt, ‘Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia …’ (QS. al-An‘ām: 153). Segala sesuatu yang bukan bengkok disebut lurus.

Makna implisit pada ayat ini adalah: Teguhkanlah kami, ya Allah, di atas keimanan; berilah kami taufik untuk melakukan amal-amal saleh; dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang menempuh jalan Islam, yang mengantarkan menuju surga penuh kenikmatan.

أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ: النعمةُ: لينُ العيش ورغده، تقولُ: أنعمتُ عينَه أي سررتها، وأنعمتُ عليه بالغتُ في التفضيل عليه، والأصل فيه أن يتعدّى بنفسه، تقول: (أنعمتُه) أي جعلته صاحب نعمة، إلاّ أنه لمّا ضمنِ معنى التفضل عليه عدّي بعلى (أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ)

An’amta ‘alaihim: nikmat adalah kelembutan hidup dan kebahagiannya. Seperti kamu berkata An‘amtu ‘aynah artinya aku membuatnya gembira; An‘amtu ‘alayh, dan artinya aku sangat berlebihan dalam memberikan keutamaan kepadanya. Pada asalnya kata An’amta ‘alaihim digunakan dengan objek langsung, seperti kamu berkata: an’amtuhu artinya aku menjadikannya pemilik nikmat. Namun, ketika ketika kata tersebut mengandung makna ‘memberi keutamaan kepadanya’, maka ia disertai dengan huruf ‘alā, sebagaimana dalam firman Allah: ‘An‘amta ‘alayhim’.

قال ابن عباس: هم النبيّون، والصدّيقون، والشهداء، والصالحون، وإلى هذا ذهب جمهور المفسّرين، وانتزعوا ذلك من قوله تعالى: وَمَن يُطِعِ الله والرسول فأولئك مَعَ الذين أَنْعَمَ الله عَلَيْهِم مِّنَ النبيين والصديقين والشهدآء والصالحين وَحَسُنَ أولئك رَفِيقًا

Ibnu Abbas berpendapat: mereka adalah para nabi, orang-orang jujur, orang-orang syahid, dan orang-orang saleh. Dan, pada pendapat ini mayoritas ulama tafsir berpendapat, dan mereka mengutipnya dari firman Allah Ta’ala: ‘barang siapa yang menaati Allah dan Rasul maka mereka itu akan bersama orang-orang yang Allah beri nikmat, yaitu para nabi, orang-orang yang sangat jujur, para syuhadā’, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sebaik-baiknya teman.’ (QS. an-Nisā’: 69).”

(…المغضوب عَلَيْهِم: هم اليهود لقوله تعالى فيهم: ﴿وَبَآءُوا بِغَضَبٍ مِّنَ الله وقوله تعالى: ﴿مَن لَّعَنَهُ الله وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ القردة والخنازير

Al-Maghdhubi ‘alaihim: mereka adalah orang-orang yahudi, sebagaimana firman Allah ta’ala tentang mereka: ‘dan, mereka kembali dengan kemurkaan dari Allah’, dan firmanya: ‘barang siapa yang dilaknati Allah dan Dia murka atasnya, lalu Dia jadikan di antara mereka kera dan babi..’.

الضآلين: الضلاّل في كلام العرب هو الذهاب عن سَنَن القصد، وطريق الحق، والانحراف عن النهج القويم، ومنه قولهم: ضلّ اللبن في الماء أي غاب، قال تعالى: (وقالوا أَءِذَا ضَلَلْنَا فِي الأرض …) أي غبنا بالموت فيها وصرنا ترابًا، وقال الشاعر:

ألم تسأل فتخبرْك الدّيارُ … عن الحيّ المضلّل أين ساروا

والمراد بالضالين (النّصارى) لقوله تعالى فيهم: قَدْ ضَلُّواْ مِن قَبْلُ وَأَضَلُّواْ كَثِيرًا وَضَلُّواْ عَن سَوَآءِ السبيل

Adh-ḍāllīn: kesesatan dalam bahasa Arab adalah keluar dari arah tujuan, meninggalkan jalan kebenaran, dan menyimpang dari jalan yang lurus. Terdapat ucapan orang mereka (orang Arab): ‘Ḍalla al-labanu fī al-mā’ artinya susu itu hilang (lenyap) di dalam air. Allah Ta‘ālā berfirman: ‘Dan mereka berkata: Apakah apabila kami telah hilang di dalam bumi …’ yakni maksudnya: kami lenyap karena kematian di dalamnya dan menjadi tanah. Dan sang penyair berkata:

“Tidakkah engkau bertanya, maka rumah-rumah itu akan memberitahumu … tentang kaum yang tersesat, ke mana mereka telah pergi.”

Yang dimaksud dengan adh-ḍāllīn (orang-orang yang sesat) ialah kaum Nasrani, sebagaimana firman Allah ta’ala tentang mereka: ‘Sungguh mereka telah sesat sebelumnya, dan mereka telah menyesatkan banyak orang, serta mereka telah tersesat dari jalan yang lurus.’

+ posts

Santri asal Bandung, namun lebih lama hidup di kotanya orang. Lebih tepatnya, pada pertengahan tahun 2016, ia berunjuk gigi di hadapan publik dengan keberadaannya di ujung timur pulau Jawa.

Soal sekarang, Alhamdulillah masih duduk di bangku yang tidak umumnya orang duduki. Maksudnya, status masih pelajar tingkat Ma'had Aly di Pondok Pesantren Al-Khoirot dan belum menikah.

Kebetulan, dia juga sedang menempuh studi S1 di Universitas Al-Qolam Malang, jika malas baca bisa disingkat menjadi UQM, begitu katanya.

Itu saja mungkin, selebihnya bisa berkunjung ke rumahnya.

Fauzan Taqiyuddin

Santri asal Bandung, namun lebih lama hidup di kotanya orang. Lebih tepatnya, pada pertengahan tahun 2016, ia berunjuk gigi di hadapan publik dengan keberadaannya di ujung timur pulau Jawa. Soal sekarang, Alhamdulillah masih duduk di bangku yang tidak umumnya orang duduki. Maksudnya, status masih pelajar tingkat Ma'had Aly di Pondok Pesantren Al-Khoirot dan belum menikah. Kebetulan, dia juga sedang menempuh studi S1 di Universitas Al-Qolam Malang, jika malas baca bisa disingkat menjadi UQM, begitu katanya. Itu saja mungkin, selebihnya bisa berkunjung ke rumahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *