Penjelasan Surat Al-Fatihah Ayat 5
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ١
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ٢ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ ٣ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ ٤ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ ٥ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ٦ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَࣖ ٧
إِيَّاكَ نَعْبُدُ: نعبدُ : نذلّ ونخشع ونستكين، لأن العبودية معناها: الذلّة والاستعانة، مأخوذ من قولهم: طريق معبّد أي مذلّل وطئته الأقدام، وذلّلته بكثرة الوطء، حتى أصبح ممهدًا
‘Iyyaka na’budu’: kami menyembah, maksudnya kami merendah, tunuduk, dan kami patuh, karena ibadah artinya kerendahan dan permintaan bantuan, yang diambil dari ucapan mereka (orang Arab). “Jalan yang telah diratakan, yaitu jalan yang telah dilembutkan dan ditapaki oleh kaki-kaki, dan karena sering dilalui, ia menjadi mudah dilalui dan rata.
قال الزمخشري : العبادة أقصى غاية الخضوع والتذلل، ومنه ثوب ذو عبدة إذا كان في غاية الصفاقة وقوة النسج، ولذلك لم تستعمل إلا في الخضوع لله تعالى، لأنه مولى أعظم النعم. فكان حقيقاً بأقصى غاية الخضوع
Menurut syekh Zamakhsyari, ibadah adalah bentuk tertinggi dari puncak ketundukan dan kerendahan hati. Istilah ini dianalogikan dengan ungkapan seperti ‘kain yang memiliki abdah’, yang berarti kain yang sangat tebal dan kuat tenunannya. Oleh karena itu, ibadah tidak dapat difungsikan kecuali dalam konteks merendahkan diri kepada Allah Swt., karena Dia adalah Tuhan Yang Maha Pemberi nikmat teragung. Maka, Ia adalah Zat yang berhak menerima ketundukan yang paling tinggi.
والمعنى : لك اللهمّ نذل ونخضع ونخصك بالعبادة لأنك المستحق لكل تعظيم وإجلال، ولا نعبد أحدًا سواك
Maknanya, pada-Mu ya Allah, kami merendahkan diri, kami tunduk, kami mengkhususkan-Mu dengan ibadah, karena Engkau adalah Zat Yang Paling berhak menerima segala keagungan dan kemuliaan, dan kami tidak menyembah pada seorangpun kecuali pada-Mu.
وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ : الاستعانة: طلب العون، قال الفراء: أعنتهُ إعانةً، واستعنتهُ واستعنت به، وفي الدعاء: ربّ أعنّي ولا تُعِنْ عليّ، ورجل معوان: كثير الإعانة للناس، وفي حديث ابن عباس: (إذا سألت فاسأل الله، وإذا استعنت فاستعن بالله)
‘Iyyaka nasta’iin’: ‘isti’anah’ (pertongan), yakni meminta pertolongan. Imam Al-Farra’ berkata, “aku telah menolongnya dengan pertolongan, aku telah meminta bantuannya, dan meminta bantuan dengannya.” Dalam konteks doa: “Ya Tuhan, tolonglah aku dan janganlah Engaku menolong orang yang melawanku.” Seorang yang disebut ‘muawan’ adalah orang yang banyak membantu orang lain. Dalam hadis Ibnu Abbas disebutkan: ‘Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan, jika engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah.’”
والمعنى: إيّاك ربنا نستعين على طاعتك وعبادتك في أمورنا كلها، فلا يملك القدرة على عوننا أحد سواك، وإذا كان من يكفر بك يستعين بسواك، فنحن لا نستعين إلا بك.
Maknanya, hanya kepada-Mu ya Tuhan Kami, kami meminta pertolongan untuk menaati-Mu, dan beribadah kepada-Mu dalam segala urusan kami. Tidak ada seorangpun yang berkuasa untuk menolong kami selain Engkau. Jika orang-orang yang kafir meminta pertolongan kepada selain-Mu, maka kami tidak akan meminta pertolongan kecuali hanya kepada-Mu.
Santri asal Bandung, namun lebih lama hidup di kotanya orang. Lebih tepatnya, pada pertengahan tahun 2016, ia berunjuk gigi di hadapan publik dengan keberadaannya di ujung timur pulau Jawa.
Soal sekarang, Alhamdulillah masih duduk di bangku yang tidak umumnya orang duduki. Maksudnya, status masih pelajar tingkat Ma'had Aly di Pondok Pesantren Al-Khoirot dan belum menikah.
Kebetulan, dia juga sedang menempuh studi S1 di Universitas Al-Qolam Malang, jika malas baca bisa disingkat menjadi UQM, begitu katanya.
Itu saja mungkin, selebihnya bisa berkunjung ke rumahnya.