Cerita FiksiSastra

Kue Cokelat untuk Ibu

Pagi itu, matahari baru saja terbit dan mulai muncul di balik jendela kamar Dita. Burung – burung di pohon belakang rumah berkicau riang, seolah iku mengingatkan Dita bahwa hari ini bukan hari biasa. Hari ini yang paling sepesial dari hari biasanya, hari ini adalah ulang tahun ibunya.

Jam dinding baru menunjukkan pukul enam, tapi pagi itu Dita sudah terbangun. Biasanya ia akan berguling malas sampai ibunya mengetuk pintu dan berkata dengan lembut,

”Dita, ayo bangun.”

Namun hari ini berbeda. Hari ini ulang tahun ibunya, dan Dita sudah berencana membuat kejutan kecil: kue cokelat buatan sendiri. Ia bangkit perlahan, mencuci muka, dan mengikat rambutnya yang agak berantakan. Ia tak ingin ibunya terbangun, jadi setiap langkah ia buat sepelan mungkin. Begitu sampai di dapur, ia menyalakan lampu kecil di sudut meja. Udara pagi masih dingin, tapi rasa semangat membuat tubuhnya hangat.

Ia membuka lemari bahan makanan satu per satu. Tepung terigu? Ada. Gula pasir? Ada. Cokelat bubuk, telur, mentega, dan susu cair—semuanya lengkap. Dita tersenyum lega. Ia sudah menyiapkannya diam-diam sejak kemarin sore, agar pagi ini tidak perlu keluar rumah.

Namun, begitu ia mencari loyang dan mixer, wajahnya berubah panik.

“Waduh, mixernya ada di lemari dekat kamar Ibu!” gumamnya cemas. Ia berpikir sejenak, lalu tersenyum lagi.

“Tidak apa-apa, aku aduk manual saja.” Ia mengambil spatula kayu dan mangkuk besar.

Langkah pertama, ia mencairkan mentega dan cokelat bubuk di atas wajan kecil dengan api kecil. Aroma cokelat yang hangat perlahan memenuhi dapur, membuatnya menelan ludah. Setelah cair, ia menurunkannya dari kompor dan menaruhnya di meja agar agak dingin.

Selanjutnya, ia mencampurkan tepung terigu, gula pasir, dan telur ke dalam mangkuk besar. Ia mulai mengaduk perlahan. Tangan kecilnya bergetar karena belum terbiasa, dan sebagian adonan terciprat ke meja. Ia tertawa pelan, lalu mengelapnya dengan serbet.

“Ibu pasti repot setiap kali bikin kue,” gumamnya sambil terus mengaduk.

Setelah mentega cairnya cukup dingin, ia menuangkannya ke adonan tepung. Adonan itu menjadi lembut dan licin. Ia terus mengaduk hingga semuanya rata. Keringat mulai menetes di pelipis, tapi Dita tak peduli. Ia hanya ingin membuat sesuatu yang bisa membuat Ibunya tersenyum.

Selesai mengaduk, Dita mengolesi loyang dengan sedikit margarin supaya kue tidak lengket. Ia menuangkan adonan ke dalam loyang itu, lalu menyalakan oven. Suara klik terdengar ketika tombol diputar. Dita menatap oven itu seperti menatap sesuatu yang ajaib. Ia belum pernah benar-benar menggunakan oven sendirian sebelumnya.

Sambil menunggu kue matang, Dita membuka kotak alat tulisnya. Ia mengambil kertas warna ungu muda dan menulis pelan dengan spidol hitam:

“Selamat Ulang Tahun, Ibu. Terima kasih sudah menjadi orang paling sabar dan paling baik di dunia. Semoga Ibu selalu bahagia.”

Tulisan tangannya agak miring, tapi penuh perasaan. Ia menempelkannya di meja makan dan menaruh vas kecil berisi bunga kertas buatan tangan.

Setengah jam kemudian, aroma kue cokelat memenuhi seluruh dapur. Dita memeriksa oven, dan matanya berbinar. Permukaan kue terlihat mengembang sempurna, sedikit retak di bagian tengah, dan berwarna cokelat tua menggoda. Ia mengenakan sarung tangan dapur, mematikan oven, lalu mengeluarkan loyang dengan hati-hati.

Kue itu ia taruh di atas piring besar. Ia menaburkan sedikit gula halus di atasnya agar tampak lebih indah. Di sisi piring, ia menaruh sendok kecil dan menempelkan lilin kecil warna merah muda.

Saat semua sudah siap, Dita duduk di kursi dapur sambil memandangi karyanya. Ia tersenyum bangga. Namun, tak lama kemudian, muncul suara langkah pelan dari arah kamar.

“Dita? Kamu di dapur?” suara itu terdengar serak dan lembut.

Dita berdiri cepat, memegang piring kue itu dengan dua tangan, lalu berjalan ke arah Ibu.

“Selamat ulang tahun, Bu!” katanya dengan wajah berseri.

Ibu terdiam sejenak, matanya membesar melihat kue itu.

“Dita yang buat?” tanyanya ragu.

Dita mengangguk.

“Iya, Dita yang buat sendiri. Maaf kalau rasanya belum seenak kue Ibu.”

Ibu tertawa pelan sambil mengusap kepala anaknya.

“Tidak penting rasanya, Nak. Yang penting hatimu.”

Mereka duduk bersama di meja makan. Ibu meniup lilin kecil itu, lalu memotong sepotong kue dan menyuapkannya ke Dita.

“Hmm… ternyata enak juga. Ibu kalah,” katanya sambil tersenyum.

Dita tersipu.

“Dita belajar dari Ibu. Dita lihat waktu Ibu bikin kue minggu lalu.”

Ibu memeluk Dita erat-erat.

“Terima kasih, sayang. Ini hadiah ulang tahun paling manis yang pernah Ibu dapat.”

Pagi itu, dapur kecil mereka terasa hangat bukan karena oven, melainkan karena kasih sayang yang mengisi ruangan. Kue cokelat itu mungkin sederhana, tapi bagi Dita, ia baru saja mempelajari satu hal penting: bahwa kasih sayang bisa diwujudkan lewat tindakan kecil, selama dilakukan dengan sepenuh hati.

Website |  + posts

Halo! Saya Junaidi. Salah satu mahasantri Ma’had A’ly Madrasah Al-Khoirot. Telah menyelesaikan jenjang Madrasah Diniyyah Ibtidaiyyah dan Madrasah Diniyyah Tsanawiyyah Al-Khoirot yang ditempuh selama 8 tahun.

Junaidi

Halo! Saya Junaidi. Salah satu mahasantri Ma’had A’ly Madrasah Al-Khoirot. Telah menyelesaikan jenjang Madrasah Diniyyah Ibtidaiyyah dan Madrasah Diniyyah Tsanawiyyah Al-Khoirot yang ditempuh selama 8 tahun.