Catatan NgajiHikmahKeislaman

Kisah Nabi Muhammad SAW Ditaqdir Lupa oleh Allah

Tulisan ini disarikan dari kajian Kitab Ibanatul Ahkam oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al – Khoirot. Kita tahu Nabi dan Rasul merupakan utusan Allah yang maksum atau terhindar dari dosa untuk menjaga kemuliaan dan martabat di hadapan kaumnya. Akan tetapi, pada suatu hari terjadi peristiwa dimana saat itu Nabi SAW ditaqdir lupa oleh Allah SWT. Hal ini bukan terjadi begitu saja tapi ada pelajaran dan hikmah penting yang dapat kita ambil dari kisah tersebut.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah Ra, suatu hari Rasulullah SAW salat bersama para sahabat diantara waktu ashar atau dhuhur dua rakaat kemudian tiba – tiba Rasulullah SAW beranjak menuju setonggak kayu yang berada di depan masjid. Kemudian Rasulullah meletakkan tangannya di atas kayu tersebut. Diantara jamaah salat tersebut terdapat sahabat Abu Bakar dan Umar Ra. Tetapi keduanya segan membicarakan sebab Rasulullah SAW melakukan salat hanya dua rakaat padahal waktu salat tersebut antara salat dhuhur atau ashar.

Sebagian sahabat segera keluar dari dalam masjid dan berkata ”salat telah diringkas (qashar)”.

Dalam situasi yang demikian ada seorang pemuda yang dipanggil Dzul Yadain memberanikan diri bertanya kepada Rasulullah SAW ”wahai Rasulullah, apakah baginda lupa atau memang salatnya diqashar?”

Rasulullah SAW menjawab ”Aku tidak lupa dan salat tidak diqashar”

Lalu pemuda itu berkata ”memang benar, baginda lupa”

Mendengar ucapan pemuda tersebut, Rasulullah segera mengerjakan sholat dua rakaat, lalu salam. Kemudian Rasulullah bertakbir dan melakukan sujud seperti sujud sebelumnya atau lebih lama dari pada sebelumnya.

Dari kisah yang diriwayatkan oleh Abu Huarirah Ra di atas mengandung banyak pelajaran serta hikmah yang bisa kita ambil dan kita amalkan dalam kehidupan sehari – hari. Pertama, semangat dan perhatian para sahabat yang tingggi dalam memperoleh ilmu dengan bertanya kepada Rasulullah SAW tanpa merasa segan atau rasa takut.

Kedua, sifat sopan santun yang ditunjukkan oleh para sahabat Nabi. Para sahabat yang diwakili oleh Dzul Yadain menyampaikan dengan bahasa halus kepada nabi perihal apakah Nabi menqasar salat atau memang Nabi lupa jumlah salat yang dilakukan. Dzul Yadain tidak langsung kepada Nabi dengan kata – kata Baginda telah lupa. Sifat sopan santun juga ditunjukkan oleh sahabat Abu Bakar dan Umar Ra, keduanya berada dalam jamaah salat pada peristiwa tersebut merasa segan dan memilih tidak langsung bertaya apa yang sedang terjadi kepada Rasulullah SAW.

Ketiga, pada waktu tertentu Nabi SAW ditaqdir lupa oleh Allah SWT. Hal ini tak lain bentuk pengajaran syari’at oleh Nabi SAW kepada ummatnya. Nabi SAW bersabdah:

إِنَّنِي لَا أَنْسَى ولَكِنْ أُنَسِّي لِأَسُنَّ _ لِأَشْرَعَ

Artinya: “Sesungguhnya aku tidak lupa, melainkan aku dilupakan untuk menetapkan syariat.”

Karena tujuan inilah peristiwa-peristiwa serupa tidak menurunkan derajat kerasulan yang tinggi. Sebagaimana sifat jaiz yang dimiliki Rasul dalam kitab aqidatul awam:

وَجَـائِزٌ فِي حَـقِّهِمْ مِنْ عَرَضِ * بِغَيْـرِ نَقْصٍ كَخَـفِيْفِ الْمَرَضِ

Artinya: ”Dan boleh di dalam hak Rosul dari sifat manusia tanpa mengurangi derajatnya, misalnya sakit yang ringan”

Begitulah kisah Rasulullah SAW ditaqdir lupa oleh Allah SWT di suatu peristiwa yang mengandung hikmah dan pelajaran yang bisa kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita sebagai ummatnya harus senantiasa berpegang teguh dan mengamalkan ajaran-ajaran yang telah dicontohkan Nabi SAW tanpa terkecuali apalagi pilih-pilih.

Baca juga: Salam Lintas Agama (Wujud Toleransi, Doa Universal dan Kebhinekaan)

junaidi
 | Website

Halo! Saya Junaidi. Salah satu mahasantri Ma’had A’ly Madrasah Al-Khoirot. Telah menyelesaikan jenjang Madrasah Diniyyah Ibtidaiyyah dan Madrasah Diniyyah Tsanawiyyah Al-Khoirot yang ditempuh selama 8 tahun.

Avatar

Junaidi

Halo! Saya Junaidi. Salah satu mahasantri Ma’had A’ly Madrasah Al-Khoirot. Telah menyelesaikan jenjang Madrasah Diniyyah Ibtidaiyyah dan Madrasah Diniyyah Tsanawiyyah Al-Khoirot yang ditempuh selama 8 tahun.