Penerjemahan Literatur Islam: Transisi Pemikiran Abad Pertengahan
Rennissance atau masa evolusi Perancis merupakan titik tolak bangsa barat yang berhasil bertransmisi dari masa kelam mereka. Berbagai konflik yang timbul dari aspek-aspek yang cukup kompleks, seperti siklus pemerintahan Monarki Absolut serta Feodalisme Gereja yang tumbuh subur, memberikan hambatan yang cukup kuat untuk memperlambat bangsa ini menuju ke titik evolusinya. Di balik itu, konflik tersebut ternyata tak menghambat hawa nafsu bangsa eropa untuk terus mengembangkan pemikiran dan perdabannya. Dan barangkali, karena aspek inilah, Napoleon Bonaparte dapat menyusun kerangka rel untuk mengaktualisasi evolusi bangsanya.
Menelisik lebih jauh, Perkembangan pemikiran bangsa ini sangat kompleks dan tentunya tak lahir dari ruang hampa. Meski memiliki sejarah yang panjang, nyatanya perkembangan ini tak lepas dari adanya kontribusi umat islam yang menjadi motif utama transisi pengetahuan mereka secara metodologis. Khususnya karena sebelum memasuki abad 13, Ideologi filsafat Neo-platonisme masih mendominasi, sedangkan metode kajian empiris Arestotelian ditolak karena berseberangan dengan ajaran gereja.
Memasuki abad ke-13, dominasi itu mulai luntur. Ada banyak fenomena yang menjadi pertanda akan hal itu. Seperti standar ilmu kedokteran yang kembali berpatok pada Hippokrates dan Galenus, kajian astronomi yang mulai mengikuti pola kosmologi yunani ataupun astronom muslim seperti Al-Farghani (861 M), Al-Battani (923 M), dan Abu Ma’syar (886 M), serta studi filsafat yang mulai mengadopsi metode pemikiran Yunani dan Arestoteles, yang semua itu tak lepas dari keberhasilan eropa dalam menerjemahkan literatur keilmuan umat Muslim ke dalam bahasa latin.
Sebenarnya, fase penerjemahan ini telah dimulai sejak abad ke-12 yang terpusat di dua tempat. Pertama di Spanyol, dan kedua di Italia yang berpusat di Sisilia dan kerajaan Napoli. Namun fase ini dimulai pertama kali di Toledo – Spanyol, yang diinisiasi oleh pembentukan institut penerjemahan yang dibentuk oleh keuskupan agung gereja di sana. Salah satu translator (penerjemah) yang cukup terkenal waktu itu adalah Gundissalinus of Amarante. Adapaun objek terjemah, diawali dengan buku keilmuan terapan seperti Astronomi, Matematika, Kedokteran, hingga meluas ke buku-buku Filsafat.
Di era ini, ensiklopedia (maushu’ah) Ibnu Sina (1037 M) “as-Syifa’” diterjemahkan ke dalam bahasa latin –dan barangkali, beliau juga sekaligus representator filsuf muslim pertama yang karyanya diterjemahkan oleh mereka–. seusainya, nama-nama lainnya seperti Al-Farabi (951 M) dan Al-Kindi (870 M) juga ikut menyusul. Hingga lambat laun banyak sekali nama-nama filsuf muslim yang karyanya juga turut diterjemahkan.
Dalam metode penerjemahannya, kaum Yahudi memiliki peran yang cukup sentris. Pasalnya, mereka mempunyai penguasaan yang baik dalam bahasa Arab dan Latin, yang mememungkinkan mereka untuk menjalin kontak dengan bangsa Arab dan Bangsa Eropa. Secara penerapan, penerjemahan ini dilakukan dengan meletakkan kosa kata latin di atas susunan kata atau kalimat bahasa arab –yang dilakukan oleh orang Yahudi–. Seusai peletakan kosa kata itu secara menyeluruh, para penerjemah Nasrani lalu mengambil sesi akhir dengan munyusun dan merapikan untaian maknanya. Hal ini memang terdengar seperti paradoks, namun realitanya, penulis asli dari penerjemahan ini adalah orang-orang Nasrani.
Dari abad 12, 13, hingga 14, semua penerjemahan literatur bersumber langsung dari karya-karya berbahasa Arab. Adapun di abad setelahnya hingga abad pertengahan berakhir, penerjemahan dilakukan langsung dari literatur-literatur berbahasa Ibrani. Beberapa nama translator yang cukup populer di beberapa abad itu seperti Gundissalinus of Amarante (1190 M), Jhon of Seville (1133 M), Gerard of Cremona (1187 M), dan lain-lain.
Hal menarik yang ingin penulis cantumkan disini adalah, Gundissaalinus of Amarante (1190 M) adalah salah satu tokoh yang sangat terpengaruh oleh para filsuf muslim. Hal ini bisa dibuktikan dari dua karya fenomenalnya seperti “De animae” dan “De divisione philosophiae” yang secara eksplisit menampikan keterpengaruhan dia dalam filsafat islam. Karena di beberapa persoalan, ia memberikan rujukan kepada karya para filsuf muslim seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Al-Farabi, dan Al-Kindi.
Usai penerjemahan berpusat di Spanyol dan Italia, gelombang ini akhirnya mulai menyebar ke seluruh penjuru Eropa. Bahkan di era ini juga mulai muncul gelombang penerjemahan dari literatur Yunani yang sangat menguntungkan universitas-universitas Eropa. Karena waktu itu universitas Paris atau yang biasa disebut dengan universitas “Sorbonne” baru didirikan. Hal itu berawal dari dikumpulkannya semua sekolah yang ada di Paris di bawah satu otoritas Paus Innocent III dan Kaisar Philip II Augustus tahun 1200 M. yang kemudian disahkan sebagai universitas tahun oleh paus Robert de Sorbon yang sampai sekarang namanya menjadi sebutan resmi universitas itu.
Dari sini-lah, karya-karya Arestoteles mulai masuk ke universitas Eropa, termasuk juga buku-buku tentang teologi dan filsafat alam (kosmologi) yang tidak lain adalah terjemahan dari literatur filsuf muslim sebelumnya. Pihak universitas sebenarnya telah menyadari bahaya yang timbul dari buku-buku ini. Mengingat Filsafat Arestoteles –baik yang diperkenalkan melalui literatur filsafat islam ataupun bukan– dinilai berseberangan dengan ortodoksi gereja, akhirnya membuatnya sempat dilarang dipelajari di Paris. Namun karena aturan ini tidak teraktualisasi secara menyeluruh, seperti di universitas Toulouse – Paris, yang saat itu tetap bebas mengakses dan mempelajari filsafat Arestoteles, lambat laun membuat penyebaran buku-buku tetap berjalan.
Mungkin ini sedikit memberi gambaran bagaimana pengaruh literatur islam bermain peran dalam perkembangan pemikiran Eropa pada waktu itu. Bahkan jika melihat lebih jauh, Gerakan penerjemahan ini-lah yang nantinya menginisiasi kemunculan dua gelombang pemikiran besar. Gelombang pertama yang melahirkan “Thomas Aquinas” sebagai tokoh besar dalam filsafat skolastik, dan gelombang kedua yang melahirkan “Roger Bacon” sebagai tokoh besar dalam empirisme modern di universitas Oxford – Inggris, yang in Sya’a Allah akan dibahas ditulisan selanjutnya.[1]
[1] Disarikan dari buku “Falsafah al-‘Ushur al-Wushtha” karya Dr. Abdurrahman Badawi, cet. Dar al-Qalam, cet. III, 1979 M.
Baca Juga: Sejarah dan Perkembangan Ushul Fikih Secara Singkat
Mahasiswa Indonesia di Mesir, asal dari Dampit. Saat ini menempuh studi di Universitas Al-Azhar, Fakultas Ushuluddin. Alumni PP Al-Khoirot Malang