ArtikelKeislaman

Antara Berfikih dan Bertashawuf

Dalam suatu kajian, Maulana Syaikh Abdul Aziz Asy-Syahawi (Ulama Besar Madzhab Syafi’i di mesir) pernah berpesan bagaimana Allah SWT memberikan petunjuk kepada kita untuk memperhatikan dua perkara yang tak boleh sepelekan sebagai seorang Hamba.

Sebagaimana dalam firman Allah SWT

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya: “Hanya kepada Engkaulah yang kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (Al-Fatihah:5)

Dalam ayat yang berbunyi (إِيَّاكَ نَعْبُدُ) yang berarti: “Hanya kepada-Mu, kami menyembah“, telah memberi kejelasan kepada kita untuk menjaga perkara ibadah/Syari’at kita. Karena Syari’at sendiri berperan untuk pengamalan seorang hamba dalam melaksanakan ibadahnya. Oleh karena itu, para ulama menganjurkan kita untuk belajar Ilmu Fikih, agar kita tahu dan faham bagaimana cara melakukan ibadah yang tepat dan benar.

Disebutkan pula pada ayat diatas (وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) yang berarti: “Dan hanya kepada-Mu pula kami meminta pertolongan“, yang memberi Ibarah bahwa hakikat dari kemampuan, kekuatan dan kekuasaan hanya milik Allah SWT dan tiada yang mampu untuk menyelesaikan hajat kita kecuali dengan pertolongan-Nya.

Dari situ bisa kita simpulkan pula bahwa keharusan bagi kita untuk menghadirkan ketaatan dan kemantapan hati dalam mempercayai seluruh apa telah yang Allah tetapkan kepada kita dan menjalaninya dengan penuh keikhlasan. Untuk menghadirkan itu semua, para Shahabat, Tabi’in dan Ulama terdahulu telah memberikan kita contoh dan cara melalui pengamalan Ilmu Tashawuf yang sangat penting pula untuk kita pelajari.

Menyembah atau beribadah kepada Allah SWT adalah tujuan utama diciptakannya kita sebagai hamba-Nya. Maka kesempurnaan dalam beribadah sudah menjadi kewajiban yang harus kita amalkan. baik dalam hati ataupun perilaku. Dan untuk menyempurnakan pengamalannya pada hati dan perilaku, kita perlu mempelajari Ilmu fikih serta Ilmu Tashawuf.

Kebanyakan dari kita (termasuk penulis) terkadang hanya bermodal paham dan dapat mengamalkan salah satu dua perkara antara ber-Fikih dan ber-Tashawuf saja, sudah merasa ibadahnya telah sempurna. Padahal pada hakikatnya, keduanya mempunyai esensi yang sama-sama penting untuk menyempurnakan ibadah kita.

Tidak hanya beribadah dengan kemantapan dan keikhlasan hati tanpa tahu cara mengamalkannya, ataupun hanya tahu cara pengamalannya, namun tidak bisa menghadirkan kemantapan serta keikhlasan dalam hatinya, tetapi harus tetap berusaha untuk melengkapi dan menghadirkan keduanya demi kesempurnaan ibadah kita kepada-Nya.

Imam Asy-Syafi’i pernah berkata:

فقيها وصوفيا فكُنْ ليس واحدًا # فـإنّي وحَقّ الله إيـاك أنصحُ

فذلك قـاس لـم يـذق قلبـه تقى # وهذا جهول كيف ذو الجهل يصلح

Artinya: “Jadilah Faqih (Ahli Fikih) dan Sufi (Ahli Tashawuf). Jangan hanya salah satunya saja. Sesungguhnya aku menasehatimu tentang hak Allah (bagimu). Karena itu adalah perbuatan orang (berhati) keras, yang hatinya tak pernah merasakan ketakwaan (sesungguhnya). Dan ini adalah kebodohan. lalu bagaimana orang yang bodoh membenahi diri?“.

Dan dikatakan pula:

من تصوف ولم يتفقه فقد تزندق، ومن تفقه ولم يتصوف فقد تفسق، ومن جمع بينهما فقد تحقق

Artinya: “Barang siapa bertashawuf tanpa berfikih, maka dia hanya pura-pura beriman. Barang siapa berfikih tanpa bertashawuf maka dia telah berbuat fasik. Dan barang siapa mengumpulkan keduanya, maka dia telah berada pada kebenaran“.

Wallahu A’alam Bisshawab.

Alumni at Pondok Pesantren Al-Khoirot | + posts

Mahasiswa Indonesia di Mesir, asal dari Dampit. Saat ini menempuh studi di Universitas Al-Azhar, Fakultas Ushuluddin. Alumni PP Al-Khoirot Malang

Avatar

Dimas Adi Saputra

Mahasiswa Indonesia di Mesir, asal dari Dampit. Saat ini menempuh studi di Universitas Al-Azhar, Fakultas Ushuluddin. Alumni PP Al-Khoirot Malang