ArtikelPendidikan

Eksistensi Ilmu Mantiq serta Manfaat Mempelajarinya

Salah satu nikmat yang harus kita syukuri sebagai Umat Islam, adalah Keharusan kita untuk memiliki rasa bangga terhadap berbagai peninggalan dan warisan berharga yang ditinggal para generasi umat terdahulu. baik itu bersifat material seperti peninggalan tempat dan benda bersejarah ataupun non material seperti budaya peradaban dan ilmu pengetahuan yang manfaatnya bisa kita rasakan sampai sekarang.

Apalagi dengan banyaknya karya Turost dari para ulama muslim yang tak ternilai harganya. seperti contoh Ilmu logika filsafat islam atau yang biasa kita kenal dengan Ilmu Mantiq.

Mungkin banyak dari kita yang belum terlalu mengenal Ilmu ini. Karena memang pada awalnya, Ilmu ini diadopsi dari disiplin ilmu barat. Jadi kesan beberapa ulama dahulu mengenai ilmu ini bisa dikatakan asing. Namun terlepas dari itu semua ada banyak nilai positif yang bisa kita ambil dari mempelajari disiplin ilmu ini.

Sebelum masuk kepembahasan inti, penulis ingin memberikan judul beberapa maklumat penting dari apa yang akan disampaikan dalam artikel ini. Yakni:

Daftar isi

  1. Definisi Ilmu Mantiq
  2. Sejarah singkat
  3. Penerjemahan ke dalam bahasa arab
  4. Pentingnya mempelajari ilmu Mantiq
  5. Hukum mempelajarinya
  6. Manfaat mempelajarinya
  7. Refrensi

Adapun lebih jelasnya sebagai berikut:

Definisi Ilmu Mantiq

Dikutip dalam kitab Idhahul Mubham Min Ma’ani As-Sullam, karya Syaikh Ahmad bin Abd Al-Mun’im Ad-Damanhuri, Mantiq secara bahasa diambil dari Masdar Mim yang bersifat Musytarak (yang memiliki arti banyak) dari Lafadz النطق yang bermakna اللفظ (lafadz/kata) atau الإدراك (pengetahuan).

Adapun secara Istilah, sebagai berikut:

قانون تعصم مراعته الذهن عن الخطأ في الفكر

Artinya: “Disiplin Ilmu yang menjaga pengetahuan dari kesalahan dalam berfikir.”

Sejarah Singkat

Secara Umum, tidak ada yang tahu kepastian kapan ilmu ini muncul. namun telah ditemukan berbagai pendapat yang mengatakan dimana pertama kali ilmu dikarang. Dikutip dari kitab Al-Hai’ah Al-Mishriyah Al-‘Ammah Lil Kitab karangan Dr. Zaki Najib Mahmud, pada abad ke-3 sebelum masehi, telah ditemukan disiplin ilmu yang serupa dengan ilmu mantiq. Dan ada pula yang beberapa peneliti yang mengatakan pada abad ke-6, Ilmu mantiq telah dikarang saat peradaban cina kuno. Bahkan juga ada yang berpendapat bahwa ilmu ini berasal dari peradaban mesir kuno.

Ust. Dr Yusuf Karam, dalam buku beliau yang berjudul Tarikh Falsafah Al-Yunaniyah, mengatakan bahwa pada abad ke-5 sebelum lahirnya Nabi Isa A.S, Ilmu ini telah diterapakan Masyarakat Yunani hingga mereka menjadi kaum yang terkenal dengan ketangkasan mereka dalam berargumentasi dan berdebat, berdasar faktor keterbatasan ilmu pengetahuan yang mereka miliki, mereka menggunakan Ilmu ini untuk menutupi keterbatasan dan kebodohan mereka. Bahkan mereka tak segan-segan memutar balikan fakta dan mempermainkan kata-kata demi mendapatkan sebuah kebenaran yang didasari oleh ego dan keuntungan pribadi.

Hingga setelah melewati berbagai vase dan masa yang panjang, terkenalah seorang Aristoteles yang berhasil manyusun ilmu ini dengan begitu terstruktur dan rapi.

Penerjemahan ke dalam bahasa Arab

Sebagian peneliti berpendapat bahwa gerakan penerjemahan berbagai disiplin ilmu yunani secara umum, khususnya Ilmu Mantiq kedalam bahasa arab pertama kali yaitu pada masa Dinasti Ummaiyah (661-750 M). Namun juga banyak pendapat yang menguatkan gerakan penerjemahan ini di mulai pada masa Dinasti Abbasiyah (132-656 H/ 750-1258 M). Dan menjadi sangat berkembang pada masa Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur (136-158 H/754-775 M). Seusai diterjemah dan tersebar dikalangan masyarakat muslim, Para Ulama terdahulu tidak serta merta menerapkan dan mengambil dalil dari ilmu tersebut. Bahkan menentang beberapa pembahasan yang tidak sesuai, mengkoreksi, serta menambah pembahasan agar tetap teralur dalam prinsip ajaran islam. sebagai mana yang telah disebutkan Dr. Ali Sami Nasyar dalam karyanya yang berjudul Manahij Al-Bahtsi ‘inda Mufakkar Al-Islam.

Dan tak terhitung sedikit pula para Ulama Islam yang menekuni cabang ilmu ini. Salah satunya adalah Al-Imam Abu Nasr Al-Farobi, yang begitu masyhur dikalangan filusuf islam sebagai salah satu ulama dengan kemumpunan luar biasa dibidang ilmu mantiq, serta berbagai karya beliau yang begitu memukau.

Tidak hanya itu. di abad ke-5 H, terkenallah seorang filusuf islam dengan nama Imam Al-Ghazali, yang sudah tak mungkin asing ditelinga kita dengan berbagai karya luar biasa beliau yang banyak sekali dikaji diberbagai pesantren ditanah air.

Dari kalangan Ulama’ abad ke-10 H, ada Syaikh Ahmad bin Abd Al-Mun’im Ad-Damanhuri, Grand Syaikh Al-Azhar yang masyhur dengan karya beliau di bidang Ilmu Mantiq berjudul Idhahul Mubham min Ma’ani As-Sullam, yang mensyarahi Nadham Sullam Munawwaraq karya Syaikh Abd Ar-Rahman Al-Akhdhar, yang begitu populer sebagai kitab rujukan untuk belajar Ilmu Mantiq diberbagai pesantren. Dan masih banyak lagi ulama-ulama yang berkecimbung dalam disiplin ilmu ini.

Pentingnya belajar ilmu Mantiq

Ditinjau dari keselarasan dengan disiplin ilmu yang lain, ilmu Mantiq mempunyai peran yang sangat penting. Yaitu:

  1. Mengarahkan pemahaman ketika terjadi kesalahan dalam berfikir,
  2. Menunjukan tatacara dalam mendefinisikan (tashawwur) sesuatu untuk mengungkap hakikat kebenarannya,
  3. Sekaligus mengetahui katepatan dan kepantasan dalam menyampaikan argumentasi.

Maka oleh sebab itu, Para Ulama menyebutnya sebagai معيار العلوم/Mi’yar Al-Ulum (Takaran Ilmu). Walau pun pada awalnya, eksistensi Ilmu Mantiq adalah pengantar untuk mendalami Filsafat Yunani. Namun setelah melalui berbagai vase penerjemahan dan penyelarasan oleh para ulama dulu, kini ilmu ini telah menjadi washilah untuk menjaga pemahaman dari kesalahan dalam berfikir. sebagaimana pula eksistensi ilmu Nahwu yang menjaga lisan dari kesalahan dalam berbicara. Seperti yang telah disampai Shahib As-Sullam, Syaikh Abdur Rahman Al-Akhdhari:

وبعد فالمنطق للجنان # نسبته كالنحو للسان

فيعصم الأفكار عن غي الخطا # وعن دقيق الفهم يكشف الغطا

Artinya: “Dan setelah membaca basmalah, hamdalah, dan Shalawat. Maka penisbatan ilmu mantiq bagi hati (akal) sama halnya penisbatan ilmu Nahwu bagi lisan. Yaitu menjaga fikiran dari kesalahan yang tak disengaja, serta mengatahui pemahaman yang rumit.”

Dalam penerapannya, Imam Al-Ghazali telah memberikan contoh yang jelas kepada kita. seperti dalam kitab karangan beliau yang berjudul Al-Mustashfa fi Ushul Al-Fiqh, yang telah beliau susun menggunakan beberapa kaidah Ilmu Mantiq, dan menjadi rujukan pengambilan dalil bagi para ulama Ushul Fiqih. Bahkan dalam karyanya ini, beliau menyebutkan:

من لا معرفة له بالمنطق لا يوثق بعلمه

Artinya: “Barang siapa yang tak mengetahui ilmu mantiq, maka keilmuannya tidak dianggap.”

Dari sini bisa kita ambil kesimpulan, bagaimana perhatian seorang Imam Al-Ghazali menggambarkan pentingnya mempelajari ilmu ini.

Hukum mempelajarinya

Masih dalam satu rujukan yang sama, Syaikh Abdur Rahman Al-Akhdhari menyebutkan:

وَالخُلْفُ في جَوازِ الاشْتِغالِ # بِهِ عَلى ثَلاثَةٍ أَقْوالِ

فَابْنُ الصَّلاحِ وَالنَّواوي حَرَّما # وَقالَ قَوْمٌ يَنْبَغي أَنْ يُعْلَما

وَالقَوْلَةُ المَشْهُورَةُ الصَّحِيحةْ # جَوَازُهُ لِسالِمِ القَريحَةْ

مُمَارِسِ السُّنَّةِ وَالكِتابِ # لِيَهْتَدي بِهِ إِلى الصَّوابِ

Jika kita simpulkan dari nadham diatas, maka mempelajari ilmu mantiq terbagi menjadi 3 hukum. Yaitu:

    1. Menurut Ibnu Shalah, Imam Nawawi dan beberapa ulama lainnya melarang untuk mempelajari.
    2. Beberapa kelompok lainnya, seperti Imam Al-Ghazali, menganjurkan untuk mempelajarinya.
    3. Dan pendapat yang masyhur serta utama lebih memperinci lagi. Bagi yang memiliki kekuatan dalam berfikir serta kecerdasan yang memumpuni dalam mempelajari Al-Qur’an dan Hadist, maka diperbolehkan. Jika tidak, maka sebaliknya.

Manfaat mempelajarinya

Sebagaimana esensi ilmu mantiq yang bertujuan untuk menjaga akal dari kesalahan dalam berfikir dan berbicara, maka menurut penulis, ilmu mantiq selayaknya juga sangat bermanfaat untuk kita (Khususnya bagi kaum santri) sebagai tameng dalam mengklarifikasi berbagai informasi yang tersebar disekitar kita. Apalagi dengan sistem demokrasi di negara kita yang tidak hanya memperbolehkan, bahkan membebaskan kita untuk berbicara aktual maupun hoak sesuka hati, Ditambah lagi dengan mudahnya mengakses segala informasi lewat Smartphone atau media akses lainnya, Mengakibatkan banyaknya informasi hoaks dan berita-berita provokasi yang harus kita filter dengan serius.

Disebutkan dalam artikel KH. Ahmad Fatih Syuhud, pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang, Jika problematika mudahnya kaum santri menerima informasi hoaks dan berbagai berita provokatif tetap dibiarkan, maka hal itu bisa menyebabkan kita terjatuh dalam dosa yang sangat besar. baca lengkapnya Dosa Besar Kaum Santri

Dikutip pula dari situs wibesite resmi NU Online, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) dan Lembaga Ta’lif wan Nasyr PBNU berupaya mengadakan Ngaji Elektronik. Yang sasaran utamanya adalah kaum santri, Dengan pendekatan terhadap kajian ilmu Mantiq. Bahkan hal ini disuport penuh oleh Staf Khusus Kominfo bagian Komunikasi, Deddy Hermawan dengan harapan mencegah Disintregasi bangsa. Atau paling tidak dapat meminimalisir penyebaran berbagai informasi dan berita hoaks dikalangan masyarakat awam. Baca lengkapnya Pesantren Perlu Hidupkan dan Sebarkan Ilmu Manthiq untuk Tangkal Hoaks

Dan tentunya masih banyak lagi berbagai manfaat yang belum disebutkan penulis dari mempelajari dan mendalami ilmu ini.

Kairo, 27 Januari 2023


Refrensi

      • Syaikh Ahmad bin Abd Al-Mun’im Ad-Damanhuri (wafat 1196 H), Idhahul Mubham min Ma’ani As-Sullam.
      • Syaikh Sholih Musa Syarafi (wafat 1405 H/1985 M), Mudzakarat fi Al-Mantiq ‘ala Sullam Al-Munawwaraq.
      • Dr. Abdullah Muhyi ‘Azbin (Dosen Akidah Filsafat dan Wakil Rektor Kuliah Ushuluddin Universitas Al-Azhar), Kata Pengantar dari kitab Muqaddimah Likitab Syarh Al-Khabishi ‘ala Matan Tahdzib Al-Mantiq li Syaikh At-Taftazani.

 

Alumni at Pondok Pesantren Al-Khoirot | + posts

Mahasiswa Indonesia di Mesir, asal dari Dampit. Saat ini menempuh studi di Universitas Al-Azhar, Fakultas Ushuluddin. Alumni PP Al-Khoirot Malang

Avatar

Dimas Adi Saputra

Mahasiswa Indonesia di Mesir, asal dari Dampit. Saat ini menempuh studi di Universitas Al-Azhar, Fakultas Ushuluddin. Alumni PP Al-Khoirot Malang