Menemukan Tenang di Tengah Bising Dunia
Dalam hiruk-pikuk dunia yang semakin bising ini, aku sering merasa terjebak dalam pusaran suara, notifikasi, dan tuntutan hidup yang datang tanpa jeda. Seolah tidak ada ruang untuk diam, tidak ada waktu untuk bernapas. Namun, di tengah segala kebisingan itu, aku belajar satu hal penting—ketenangan bukan sesuatu yang harus dicari jauh-jauh, melainkan sesuatu yang tumbuh di dalam diri ketika hati mampu berdamai dengan dunia.
Allah Swt. telah mengingatkan manusia dalam firman-Nya:
﴿ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ﴾
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(Q.S. Ar-Ra’d [13]: 28)
Ayat itu selalu terasa menenangkan setiap kali aku membacanya. Ia seperti pelukan lembut dari langit yang mengingatkanku bahwa sumber ketenangan sejati tidak berada pada keheningan dunia, tetapi pada kedekatan dengan Allah. Dunia bisa terus berisik, orang bisa terus menuntut, tapi jika hati berdzikir, semua itu terasa ringan.
Aku sering memperhatikan orang-orang di sekitarku—teman, keluarga, bahkan diriku sendiri—yang tampak sibuk mengejar sesuatu: nilai, pekerjaan, pengakuan, atau sekadar validasi dari media sosial. Semua berlari, namun banyak yang tampak lelah. Kadang aku pun ikut terperangkap dalam pola yang sama. Saat itu, pikiranku penuh, mataku lelah, dan dadaku terasa sempit. Tapi anehnya, ketika aku berhenti sejenak, mengambil wudhu, lalu shalat dua rakaat, semua menjadi berbeda. Ada rasa lega, meski masalah belum selesai. Ada rasa cukup, meski dunia belum berubah.
Rasulullah saw. bersabda:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “اسْتَعِينُوا عَلَى أُمُورِكُمْ بِالسِّرِّ وَالْكِتْمَانِ، فَإِنَّ كُلَّ ذِي نِعْمَةٍ مَحْسُودٌ”
“Mintalah pertolongan dalam urusanmu dengan cara diam dan rahasia, karena setiap orang yang mendapat nikmat pasti akan ada yang iri kepadanya.”
(HR. Ath-Thabrani)
Hadis ini membuatku sadar bahwa tidak semua hal perlu diumbar. Dunia sekarang seperti berlomba untuk dilihat: siapa yang paling bahagia, siapa yang paling sukses, siapa yang paling beruntung. Padahal, ketenangan justru lahir dari kesederhanaan dan keheningan. Saat kita tidak merasa perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun, itulah saat hati mulai tenang.
Dalam pencarianku akan ketenangan, aku belajar bahwa “tenang” bukan berarti hidup tanpa masalah, tetapi kemampuan untuk tidak larut dalam kegaduhan. Dunia bisa berisik, tapi hati bisa tetap damai. Seperti laut yang di permukaannya bergelombang, tapi di dasarnya selalu sunyi. Begitulah seharusnya hati manusia—tenang meski badai datang silih berganti.
Aku menemukan bahwa salah satu cara paling efektif menumbuhkan ketenangan adalah dengan menata hubungan dengan Allah dan sesama. Ketika aku mencoba ikhlas menerima takdir, berhenti membandingkan diri, dan lebih banyak bersyukur, ada rasa hangat yang sulit dijelaskan. Aku mulai belajar bahwa kebahagiaan sejati bukan pada seberapa banyak yang kita punya, melainkan seberapa dalam kita bisa mensyukuri apa yang ada.
Ada hari-hari ketika aku merasa kehilangan arah. Dunia terasa terlalu cepat, dan aku seakan tertinggal. Saat itu, aku menenangkan diri dengan zikir sederhana: Hasbunallahu wa ni‘mal wakil—Cukuplah Allah sebagai penolong kami. Kalimat itu menjadi jangkar dalam pikiranku. Ia menahan hatiku agar tidak hanyut dalam cemas, karena aku tahu bahwa selama aku bergantung kepada Allah, aku tidak akan pernah benar-benar sendiri.
Aku juga belajar bahwa menenangkan diri bukan hanya soal ibadah, tapi juga menjaga diri dari kebisingan digital. Kadang aku sengaja menonaktifkan notifikasi, mematikan ponsel, dan duduk di taman tanpa mendengarkan apa pun kecuali suara alam. Aneh, tapi keheningan itu terasa seperti terapi. Dari sana aku sadar bahwa tenang itu butuh usaha. Butuh keberanian untuk berhenti sejenak, meski dunia terus berlari.
Ketenangan juga tidak selalu berarti diam tanpa tindakan. Justru, dari hati yang tenang lahir keputusan yang bijak. Orang yang tergesa sering salah langkah, tapi orang yang tenang mampu melihat segala sesuatu dengan jernih. Aku mencoba menerapkan ini dalam keseharian—menunda bicara ketika marah, menarik napas sebelum menjawab, dan berdoa sebelum mengambil keputusan besar. Mungkin sederhana, tapi efeknya luar biasa.
Kini aku mengerti bahwa ketenangan adalah anugerah yang harus dijaga. Ia seperti air jernih di wadah hati—akan keruh jika kita terus memasukkan racun berupa iri, cemas, dan amarah. Maka aku berusaha mengisi hatiku dengan hal-hal baik: doa, rasa syukur, sabar, dan empati. Setiap kali aku tergoda untuk marah atau kecewa, aku ingat firman Allah:
﴿ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴾
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(Q.S. Al-Insyirah [94]: 6)
Ayat itu menegaskan bahwa badai tidak akan selamanya. Selalu ada cahaya di balik gelap, asal kita mau menunggu dengan sabar.
Akhirnya, aku sampai pada kesimpulan sederhana: dunia akan selalu bising, tapi aku bisa memilih untuk tetap tenang. Aku tidak bisa mengubah semua hal di luar diriku, tapi aku bisa mengatur bagaimana hatiku meresponsnya. Tenang bukan berarti berhenti berjuang, melainkan berjuang dengan hati yang damai. Dan di situlah aku menemukan kebahagiaan sejati—bukan pada sunyinya dunia, tapi pada tenangnya jiwa yang dekat dengan Tuhan.
Nashrul Mu'minin, asal Lamongan, Jawa Timur. Lahir 21 Februari 2003, impian penulis dan dosen. Perjalanan hidupku terukir dalam kata-kata, Menginspirasi dunia dengan impian kubangun.