KeislamanRagam

Menjemput Puasa Arafah

Hari ini, 9 Dzulhijjah, adalah hari yang sangat istimewa bagiku. Ini adalah Hari Arafah, dimana umat Muslim di seluruh dunia akan berpuasa dan berkumpul di Padang Arafah, dekat Mekah, untuk berdoa dan memohon ampunan kepada Allah SWT.

Sejak kemarin, suasana di rumahku sudah mulai terasa berbeda. Ibu sibuk menyiapkan berbagai macam makanan dan kudapan untuk berbuka puasa nanti. Ayah juga tampak lebih khusyuk dalam beribadah. Saudara-saudaraku pun terlihat bersemangat untuk menyambut hari ini.

Pagi-pagi sekali, kami semua berkumpul untuk melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Seusai shalat, Ayah memberikan tausiyah singkat mengenai keutamaan Hari Arafah dan mengajak kami untuk benar-benar memanfaatkan hari ini dengan sebaik-baiknya.

Selesai sarapan, aku bergegas mandi dan berganti pakaian. Hari ini, aku memakai baju terbaikku, baju koko berwarna putih yang telah disetrika rapi oleh Ibu. Sebelum berangkat, Ibu memberikan nasihat agar aku berdoa dengan khusyuk dan memohon ampunan dari Allah SWT.

Kami pun berangkat menuju masjid terdekat untuk melaksanakan shalat Dhuha dan dilanjutkan dengan shalat Dzuhur berjamaah. Suasana di masjid terasa begitu khidmat. Semua orang tampak khusyuk dalam beribadah, seakan-akan tengah berkumpul di Padang Arafah bersama Rasulullah saw.

Usai shalat, kami pun bergegas untuk melaksanakan puasa Arafah. Aku begitu bersemangat, karena puasa kali ini berbeda dari puasa-puasa biasanya. Puasa Arafah tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari segala macam perbuatan yang dapat menggugurkan puasa, seperti berbohong, berkata kasar, dan lain sebagainya.

Baca juga: Puasa Sunnah Bulan Dzulhijjah

Sepanjang hari, aku terus memanjatkan doa dan dzikir. Berkali-kali aku mengulang kalimat “Laa ilaaha illallah” dan “Alhamdulillah”. Aku juga membaca Al-Qur’an dan berusaha untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Menjelang berbuka puasa, suasana di rumah semakin meriah. Ibu dan saudara-saudaraku sibuk menyiapkan hidangan berbuka puasa. Wangi masakan yang menggugah selera memenuhi seisi rumah, membuat perutku semakin keroncongan.

Tepat pukul 18.00, kami berbuka puasa bersama-sama. Kami menyantap sajian berbuka puasa dengan penuh rasa syukur. Setelah itu, kami bergegas untuk melaksanakan shalat Magrib dan Isya berjamaah.

Usai shalat Isya, kami kembali berkumpul untuk melaksanakan shalat Tahajud. Aku berusaha untuk khusyuk dalam shalat, memohon ampunan dan memanjatkan doa-doa kepada Allah SWT. Entah mengapa, dalam shalat kali ini, hatiku terasa begitu tenang dan damai. Seolah-olah ada bisikan dari Yang Maha Kuasa, menenangkan jiwaku yang gundah.

Selesai shalat Tahajud, kami bertukar cerita dan pengalaman selama berpuasa hari ini. Ayah memberikan motivasi dan nasihat agar kami terus menjaga keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Ibu pun memberikan masakan spesial yang hanya dibuat pada hari-hari istimewa seperti ini.

Malam semakin larut, tapi kami masih betah untuk terus berdiskusi dan bertukar pengalaman. Kami saling berbagi cerita tentang perjuangan menahan lapar dan haus, tentang kekhusyukan dalam beribadah, serta tentang berbagai macam doa yang telah kami panjatkan.

Pada akhirnya, kami pun memutuskan untuk beristirahat, mempersiapkan diri untuk melaksanakan shalat Subuh besok pagi. Sebelum tidur, aku berdoa dalam hati, memohon kepada Allah SWT agar Ia senantiasa memberikan petunjuk dan kemudahan dalam menjalani kehidupan. Aku juga berharap, agar Hari Arafah yang kami lalui hari ini, dapat menjadi momentum untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya.

Tibalah hari yang dinantikan, Hari Arafah. Hari ini, umat Muslim di seluruh dunia akan berkumpul di Padang Arafah, tempat Rasulullah saw. wukuf dan menyampaikan khutbah perpisahan. Meskipun aku tidak dapat hadir secara fisik di sana, tapi hatiku tetap merasakan kekhusyukan dan kekhidmatan suasana di Padang Arafah.

Hari ini, aku benar-benar merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Puasa Arafah yang kami laksanakan, telah memberikan kesempatan bagi kami untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga, keistimewaan Hari Arafah ini, dapat menjadi pemicu bagi kami untuk terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada-Nya.

Menjemput Puasa Arafah

Nashrul Mu'minin, asal Lamongan, Jawa Timur. Lahir 21 Februari 2003, impian penulis dan dosen. Perjalanan hidupku terukir dalam kata-kata, Menginspirasi dunia dengan impian kubangun.

Avatar

Nashrul Mu'minin

Nashrul Mu'minin, asal Lamongan, Jawa Timur. Lahir 21 Februari 2003, impian penulis dan dosen. Perjalanan hidupku terukir dalam kata-kata, Menginspirasi dunia dengan impian kubangun.