“BRICS: Indonesia di Panggung Dunia Baru”
“BRICS: Indonesia di Panggung Dunia Baru”
Oleh Nashrul Mu’minin, Content Writer, Yogyakarta
Seiring bergabungnya Indonesia secara resmi ke dalam BRICS pada awal 2025, kita menyaksikan babak baru dalam strategi diplomasi dan ekonomi nasional. Langkah ini bukan sekadar simbol, melainkan kesempatan untuk memperjuangkan tatanan dunia multipolar yang memberi ruang bagi suara negara berkembang. Dengan jajaran anggota seperti Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, BRICS telah berubah menjadi platform berdampak global—lebih besar dari sekadar lima negara awal.
Masuknya Indonesia membuka peluang strategis: akses ke pasar yang luas, diversifikasi mitra dagang, dan kesempatan mendapat pendanaan dari lembaga seperti New Development Bank untuk pembangunan infrastruktur dan transisi energi. Produk unggulan nasional—minyak sawit, nikel, kopi, hingga produk manufaktur—mendapat jalan masuk alternatif ke pasar global, tanpa bergantung pada AS atau Uni Eropa.
Namun, peluang besar membawa tantangan besar pula. Di balik klaim dedolarisasi dan transaksi mata uang lokal, terselip risiko dominasi China dalam jalur investasi dan proyek infrastruktur—seperti ambisi global Belt and Road Initiative—yang bisa membuat ketergantungan baru. Korporasi manufaktur China juga berpotensi meredam industri lokal jika kebijakan protektif tak cukup kuat. Ditambah, adanya dinamika geopolitik di antara anggota BRICS—seperti ketegangan China-India atau pengaruh Rusia—membayang di tengah forum ini, menuntut kecermatan diplomasi.
Indonesia harus memosisikan diri dengan cerdas sebagai “jembatan strategis”—bertindak sebagai mediator dalam perseteruan geopolitik, menjaga relasi seimbang antara China, AS, dan negara lain. Dengan menerapkan pembayaran dalam mata uang lokal, mengembangkan industri hilir, dan memperkuat kebijakan diplomatik, kita bisa memetik keuntungan maksimal tanpa terjebak jebakan ketergantungan.
Langkah bergabung ke BRICS juga mempertegas orientasi kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas-aktif: bukan memihak satu blok, tapi cerdas memanfaatkan ruang antara kekuatan global. Dengan demikian, Indonesia bukan hanya peserta, tapi bisa menjadi arsitek dalam menyusun narasi global yang lebih adil: memperjuangkan kepentingan negara berkembang, menjaga kedaulatan ekonomi, dan mendukung tatanan multilateral inklusif.
Namun, untuk itu diperlukan mesin diplomasi dan strategi ekonomi yang matang. Bertolak dari visi pragmatis Presiden Prabowo Subianto, Indonesia perlu terus mengawal implementasi di tingkat global—agar panggung baru BRICS bukan jadi jebakan politik, tapi jembatan peradaban menuju kemandirian yang dijaga oleh semangat adaptif, inklusif, dan berdaya saing.
Indonesia kini bukan sekadar “anak baru BRICS”; ia adalah calon penggerak yang harus mampu memainkan simfoni global tanpa kehilangan nada lokal. Bagaimana kita menyusun orkestranya, tergantung dari kebijakan bijak dan visi diplomasi berkelas—dua kunci agar Indonesia benar-benar bisa berselancar di ombak dunia baru.
Nashrul Mu'minin, asal Lamongan, Jawa Timur. Lahir 21 Februari 2003, impian penulis dan dosen. Perjalanan hidupku terukir dalam kata-kata, Menginspirasi dunia dengan impian kubangun.