Hilang Arah
Hilang Arah
Sadar gak, hari ini banyak pemuda terlihat gagah, tetapi sebenarnya jiwanya sedang goyah? Mereka tampak kuat di hadapan orang lain, mampu tertawa di tengah keramaian. Namun, siapa sangka, di balik penampilan yang meyakinkan itu tersimpan pergulatan batin yang tidak semua orang melihatnya. Ada kegelisahan yang dipendam, kehampaan yang tidak terucapkan, serta kebingungan menentukan arah kehidupan.
Persoalan semacam ini bukanlah perkara sederhana. Sebab, tidak semua luka dapat dilihat oleh mata dan tidak semua kegelisahan mampu diungkapkan melalui kata-kata. Ada masalah yang hanya diketahui oleh orang yang mengalaminya. Sebagaimana ungkapan Syekh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi dalam kitabnya Al-Islam wa Musykilat al-Syabab:
هٰذِهِ الْمُشْكِلَةُ، عَلَى خُطُورَتِهَا، لَا يُحِسُّ بِهَا فِي هٰذِهِ الْمَرْحَلَةِ غَيْرُ صَاحِبِهَا
Artinya: “Persoalan ini, meskipun begitu berbahaya, hanya dirasakan oleh orang yang mengalaminya sendiri.”
Persoalan ini sering luput dari perhatian kita. Seseorang mungkin terlihat biasa saja, tetapi di dalam dirinya berlangsung pertarungan yang tidak diketahui orang lain. Kita sering terlalu cepat menilai seseorang berdasarkan penampilan, perkataan, dan perbuatannya. Padahal, tidak semua orang yang tersenyum itu bahagia, orang yang diam itu baik-baik saja dan tidak semua orang yang terlihat kuat benar-benar memiliki teguh jiwanya.
Lebih mengkhawatirkan lagi, ketika kegelisahan batin tersebut dibiarkan tanpa penyelesaian. Perlahan kegelisahan tersebut memengaruhi seseorang menjalani kehidupan. Semula hanya pergolakan dalam pikiran dan perasaan, lambat laun menjelma menjadi sikap dan tindakan. Seseorang mulai kehilangan semangat, meremehkan berbagai hal, bahkan tidak lagi memiliki tujuan hidup yang jelas. Sebagaimana ungkapan beliau:
يَبْدُو مُسْتَهِينًا بِكُلِّ شَيْءٍ، لَا يَضَعُ لِحَيَاتِهِ هَدَفًا وَلَا يَسْمُو بِهَا إِلَى أَيِّ مَبْدَأٍ
Artinya: “Ia tampak meremehkan segala sesuatu, tidak menetapkan tujuan bagi kehidupannya, dan tidak mengangkat kehidupannya menuju prinsip atau nilai luhur apa pun.”
Ketika seseorang kehilangan arah, persoalan utama bukan sekadar mengetahui harus melangkah ke mana. Lebih jauh, ia dapat kehilangan pegangan yang benar-benar berharga dalam hidupnya. Prinsip mulai ditinggalkan, tanggung jawab dianggap beban, nasihat dipandang sebagai gangguan, dan nilai-nilai kebaikan perlahan kehilangan tempat dalam dirinya. Akibatnya, bukan hanya dirinya yang terdampak, tetapi juga bagaimana ia memandang, menghargai, dan memperlakukan orang lain.
Kondisi semacam ini tentu menjadi keprihatinan bersama. Sebab, pemuda bukan sekadar kelompok usia yang sedang bertumbuh, melainkan generasi yang kelak memikul tanggung jawab besar bagi keluarga, masyarakat, agama, dan bangsa. Namun, bagaimana mungkin seseorang mampu memikul tanggung jawab besar apabila dirinya belum memiliki keteguhan prinsip? Bagaimana mungkin ia menjadi penerus yang baik apabila hidupnya berjalan tanpa arah dan tujuan? Sebagaimana ungkapan beliau mengenai realitas sosial hari ini:
وَفِي مُجْتَمَعِنَا الْيَوْمَ كَثِيرٌ مِنْ هٰؤُلَاءِ الشُّبَّانِ، وَلَا رَيْبَ أَنَّهُمْ فِي ازْدِيَادٍ.
Artinya: “Di tengah masyarakat kita hari ini terdapat banyak pemuda semacam ini, dan tidak diragukan lagi bahwa jumlah mereka terus bertambah.”
Pernyataan ini seharusnya menjadi bahan renungan. Sebab, tidak adil apabila setiap pemuda yang sedang mengalami kegelisahan langsung dihakimi dengan kehilangan masa depan. Justru, kita perlu menengok solusi-solusi yang ditawarkan oleh Syekh al-Buthi untuk mengobati penyakit ini.
Pertama, meluruskan kembali tashawwur (cara memandang kehidupan).
Kegoyahan jiwa sering kali lahir karena pemuda gagal menjawab tiga pertanyaan eksistensial dirinya: Dari mana aku berasal? Untuk apa aku hidup di dunia ini? Dan ke mana aku akan pergi setelah kematian? Ketika Islam hadir memberikan jawaban rasional bahwa manusia diciptakan sebagai hamba Allah yang mengemban misi kebaikan, maka hidup seorang pemuda tidak lagi terasa hampa. Ia akan menyadari bahwa eksistensinya memiliki arti yang teramat mulia, jauh melampaui sekadar mencari validasi manusia atau tren yang fana.
Kedua, menjaga keseimbangan akal dan jiwa.
Di era ini, pemuda dituntut serba tahu dan pintar secara akademis. Namun sering kali batin mereka kelaparan, jiwa mereka kosong dari zikir, dari ibadah yang khusyuk. Sehingga iman mereka sangat mudah terombang-ambing. Iman tidak boleh hanya berhenti sebagai teori di kepala, tetapi harus dirasakan sebagai ketenteraman yang meresap ke dalam hati.
Ketiga, membangun lingkungan yang positif (al-bi’ah al-shalihah).
Syekh al-Buthi mengingatkan agar masyarakat, orang tua, guru dan para pemuka agama tidak buru-buru menghakimi, menjauhi pemuda yang tengah mengalami krisis keimanan. Mereka membutuhkan ruang dialog yang sehat, pendekatan persuasi, serta pertemanan yang saling menguatkan dalam kebaikan.
Pada akhirnya, kita perlu bertanya kepada diri sendiri, apakah selama ini kita benar-benar sedang membangun kehidupan, atau hanya sibuk membangun penampilan? Apakah kita memiliki tujuan yang diperjuangkan, atau sekadar mengikuti lingkungan yang membawa kita?
Sebab, dunia tidak hanya membutuhkan pemuda yang kuat secara fisik dan lantang dalam berbicara, tetapi juga pemuda yang kokoh jiwanya, luhur akhlaknya, teguh prinsipnya, dan jelas arah perjuangannya.
Santri Al Khoirot, peserta progam Ma'had Ali Al-Khoirot