Berita

Menghidupkan Tradisi Turats: Semangat IKMAL dalam Musyawarah Roudlotu at-Tholibin dan Bahstul Masail Kitab Muthawwalat

MALANG – Rutinitas bulanan musyawarah kitab Roudlotu at-Tholibin dan Bahtsul Masail Akbar kembali digelar, kali ini bertempat di Pondok Pesantren Al-Khoirot, Karangsuko, Pagelaran, Malang Sabtu (14/02) mendatang. Kegiatan yang berpindah lokasi setiap bulannya ini tidak hanya menjadi ajang adu argumen fikih, tetapi juga perekat silaturahmi antara pesantren dan masyarakat sekitar.

Musyawarah Kitab Roudlotu at-Tholibin dan Bahtsul Masail Akbar yang digelar rutin satu bulan satu kali berlangsung dinamis. Agenda utama pertemuan ini adalah pembacaan kitab Roudlotu at-Tholibin dan Bahstul Masail Kitab Muthowwalat yang membahas permasalahan yang ada di Masyarakat namun dengan jawaban yang sedikit berbeda. Mayoritas peserta musyawarah adalah guru Madrasah Diniyah Al-Khoirot, sehingga kegiatan berlangsung aktif dan kaya akan argumentasi oleh setiap anggota musyawirin. Bahtsul masail kali ini mempunyai aturan menarik, yakni para musyawirin harus mengambil argumentasi dari kitab muthowwalat bahkan kitab-kitab muqoron. Musyawwirin tidak diperkenankan menjawab menggunakan kitab-kitab kecil seperti Fathul Qorib, Fathul Mu’in, dan semacamnya.

Suasana forum terlihat hidup. Salah satu peserta musyawarah, Suudi (40), Alumni Pesantren Al-Khoirot, mengungkapkan manfaat yang diperoleh dari kegiatan ini dan tantangan tersendiri dalam membedah kitab karya Imam An-Nawawi tersebut.

“Menambah minat baca khususnya kitab-kitab muthowwalat dan dengan bertambahnya minat baca tentunya makin banyak reverensi khususnya di bidang fikih. Berkat musyawarah ini pula kami banyak mengetahui hukum-hukum atau kasus (khususnya fikih) yg selama ini tidak kami ketahui ( ya karna kurang baca kitab muthowwalat sih), dari situ, kami bisa tau dan faham bahwa beragama (menjalankan syariat itu) tidak susah.”

Selain aspek intelektual, kegiatan ini dapat menambah pengalama bagi para guru Madin yang ikut serta dalam musyawarah ini, Ustadz Muklis (60). Menurutnya, model ini efektif untuk membuka wawasan yang luas tentang hukum fikih perbandingan madzhab sehingga dapat membuka Solusi permasalahan yang ada di masyarakat.

“Alhamdulillah dengan adanya musyawarah ini, terasa manfaat nya. Setelah diadakan musyawah Roudlotu at-Tholibin saya sering merasa lebih pengalaman di dalam berbagai pendapat, karena saya sudah empat tahun mempelajari perbandingan madzhab, mulai sebelum anak saya berangkat ke Kairo, sampai sekarang. Alhamdulillah dengan adanya musyawarah Roudlotu at-Tholibin saya sudah tidak merasa paling berpengalaman di dalam perbandingan madzhab, baik empat madzhab maupun sampai sembilan madzhab, Semoga musyawarah ini tetap berjalan dan semakin berkembang,” ungkapnya.

Selain dua sudut pandang di atas, kegiatan ini juga menampakkan identitas Al-Khoirot yang sebenarnya. Identitas yang dimaksud adalah menjadi bagian dari kemaslahatan umat melalui kajian kitab kuning dan membarikan Solusi hukum bagi Masyarakat, H. Bashir (59). Menurutnya identitas santri Al-Khoirot terbentuk Kembali dengan diadakannya kajian kitab muthowwalat ini.

“Kegiatan Musyawarah dan Bahtsul Masail seperti ini sangatlah istimewa. Hal ini menjadi identitas dan ciri khas Santri Alkhoirot yang harus dipelihara serta dijunjung tinggi sampai kapan pun. Semoga seluruh anggota tetap bersemangat.”

Di sisi lain, Kiai Ahmad Fatih, selaku Pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot sekaligus pelopor berdirinya kajian ini, berharap forum Bahtsul Masail Akbar ini mampu menjawab keresahan masyarakat modern. “Hukum Islam itu solutif. Melalui musyawarah ini, kita ingin memastikan bahwa santri peka terhadap isu terkini dan bisa memberikan jawaban hukum yang relevan, tanpa keluar dari koridor mazhab,” tegasnya dalam sambutan.

MA Al-Khoirot |  + posts

Santri Pondok Pesantren Al-Khoirot Karangsuko, Pegalaran, Malang. Sarjana Komunikasi di Universitas Al-Qolam Malang. Ketua Pengurus dalam bidang Al-Quran Metode Ummi di Pondok Pesantren Al-Khoirot.

Fatkhur Rohman

Santri Pondok Pesantren Al-Khoirot Karangsuko, Pegalaran, Malang. Sarjana Komunikasi di Universitas Al-Qolam Malang. Ketua Pengurus dalam bidang Al-Quran Metode Ummi di Pondok Pesantren Al-Khoirot.