Pendidikan

Tips Mengatasi Problematika dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia (studi kasus dan solusi dalam drama)

Pembelajaran sastra dalam lembaga pendidikan sejak dulu memang bermasalah, keluhan-keluhan yang dilanturkan oleh para guru, siswa, tentang rendahnya tingkat apreasi sastra menjadi bukti kongkrit dalam suatu pembelajaran sastra yang tidak beres. Faktor yang menyebabkan munculnnya permasalahan diantaranya rendahnya kualitas pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah mulai dari kurikulum, guru, siswa, sarana dan prasarana, dan rendahnya pemahaman terhadap sastra. Dan terkadang permasalahannya karna pembelajaran sastra di sekolah dianggap pembelajaran yang tidak menarik dan monoton bahkan membosankan. Coba kita ubah pemikiran kita yang negative menjadi pemikiran yang positif  pembelajaran sastra bukanlah pembelajaran yang membosankan melaikan pelajaran yang menyenangkan sebab pembelajaran sastra mengajarkan kita rasa yang lebih dalam memahami sesuatu.

Tapi problematic di lapangan yang terjadi peserta didik kurang antusias dalam mempelajari karya sastra salah satunya dalam pelajaran drama tapi terkadang siswa menerapkan namun tak sadar bahwa hal yang di lakukan olehnya itu termasuk drama. Namun yang telah diteliti oleh peneliti di sekolah diantaranya kurang terampil dalam bermain drama, kurang menghayati pada tokoh yang dibawakan, dan peserta didik kurang memperhatikan pengunaan lafal, jeda, intonasi, artikulasi dalam mempermainkan drama.

Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam bermain drama:

1. Karakter

Untuk memahami karakter kita dapat berimajinasi ataupun observasi, bisa kita cari melalui buku ataupun internet dan bisa secara langsung. Dan untuk memahami karakter yang kita bawakan. Gerak gerik di baguskan  supaya semakin menarik.

2. Memanfaatkan panggung secara maksimal

Sayang banget, misalkan  panggungnya luas tapi yang kita manfaatkan hanya beberapa sudut saja. Kita bebas mau menghadap dan bergerak kemana saja selagi tidak membelakangi penonton . dan selama ber action kita harus memiliki suara yang jelas, intonasi yang jelas, dan artikulasi yang jelas supaya semua penonton bisa memahami dan mendenarkan apa yang kita ucapkan, sehingga cerita atau essan yang kita dapatkan bisa sampai dan mudah di pahami.

3. Tata busana

Seni merangkai busana ynag akad di gunakan dalam pementasan dramayanng mendukung penampilan para pemeran drama. Kita harus menyesuaikan baik mimic ataupun busana dengan apa yang kita perankan.

Unsur- unsur drama itu ada 8 yakni:
Tema

Tema merupakan gagasan sentra yang menjadi dasar disusunnya atau di buatnya drama.

Plot atau alur

Merupakan jalinan cerita dari awal sampai akhir cerita, jalinan cerita ini  merupakan jalanya cerita dalam drama yang berupa permasalahan, konflik, klimaks.

Penokohan atau pewatakan

Ponokohan atau pewatakan adalah jati diri seorang tokoh. Apakah tokoh itu baik, jahat, buruk, pendekik atau lainnya. Ponokohan atau perwatakan bisa dilihat langsung oleh penonton pementesan tersubut dari sikap, ucapan, tingkah laku, suara serta lainnya.

Dialog

Percakapan merupakan unsur utama dalam drama, dialog Tu percakapan juga yang embedakan anatara drama dan cerita lain.dan dialog dalam drama sama dengan dialog sehari-hari sesuai dengan drama dan ponokohan yang kita perankan.dialog juga merupakan hal yang menentukan sukses tidaknya sebuah drama. Seorang pemeran tokoh harus dapatmenyampaikan dialog dengan penuh menghayati  untuk mencapai keindhan dan tujuan pementasan dapat tercapai.

Setting

Merupakan latar terjadinya cerita yang meliputi waktuk,tempat, dan ruang.

Amanat

Merupakan pesan yang hendak disampaikan pengarang lewat drama yang di ciptakan,dan akan kita ketahui inti dari drama setelah kita mengapresiasikan drama tersebut.

Petunjuk teknis

Merupakan petu juk pementasan atau mengauvisualkan naskah drama.  Dan petunjuk teknis juga bisa disebut dengan teks samping.

Drama merupakan interpretasi kehidupan

Unsur ini bukan unsur fiksi melaikan unsur idea atau pandangan dasar dalam menyusun data yang merupakan tiruan kehidupan manusia atau miniature  kehidupan manusia yang dipantaskan.

KESIMPULAN

Dalam penulisan ini penulis menyampaikan satra lisan yang berbentuk drama dan disini juga penulis mengajak kita memahami drama baik dari hal yang harus diperhatikan dan hal yang harus di hindari.

Baca juga: Deradikalisasi Teroris dengan Ushul Fikih