Umum

Pandangan Maskulinitas dalam Cerpen”Lelaki Sejati” karya Putu Wijaya

Maskulinitas adalah seperangkat praktik sosial dan representasi budaya yang terkait dengan menjadi laki-laki (Pilcher dan Whelehan, 2017: 92). Laki-laki harus memenuhi kriteria maskulinitas untuk dapat dianggap sebagai laki-laki. Maskulinitas dengan singkat bisa difahami dengan hal yang berkaitan dengan seorang laki-laki. Maskulinitas jika dikaitkan dengan ilmu sastra maka bisa masuk dalam kritik sastra. Maskulintas bisa diuraikan dan dijelaskan lebih rinci jika kita menelaah suatu cerpen atau prosa. Dan ketika hendak menelaah carilah cerpen yang mengandung nilai maskulinitas didalamnya. Maskulinutas sama halnya dengan feminitas hanya jika maaskulin terhadap sosok atau jiwa laki-laki sedangkan feminitas itu sebaliknya.

Ada kata kunci agar kita lebih memahami tentang feminitas dan maskulinitas yaitu keadilan dan kesetaraan. Keadilan dan kesetaraan lah yang menjadi akar tumbuhnya dari dua kata itu feminitas dan maskulinitas. Keadilan bisa diambil dari perjuangan seorang wanita yang mencari keadilan sehingga akar pergelutan dan pergerakan feminitas itu membara. Tak hanya itu ada hal lain juga yang memancing kedua pergerakan tersebut yaitu adanya perbuatan atau sifat yang membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan. Dan dalam hal ini sebenarnya tidak patut untuk dilakukan karena kesetaraan itu harus ada dan,tak hanya itu bahkan sudah jelas didalam agama jika laki-laki dan perempuan sudah diciptakan dengan kodrat dan kadar mereka masing-masing.

Salah satu cerpen ini mengandung nilai maskulinitas, didalam cerpen ini terdapat tiga  tokoh putri, ibu dan seorang laki-laki yang digambarkan didalam cerpen tersebut. Sisi maskulinitas dalam cerpen ini adalah seorang lelaki sejati. Pandangan maskulinitas dalam cerpen ini adalah bagaimana sosok lelaki sejati yang didalamnya menggambarkan lelaki sejati itu adalah sosok yang mana melihat apa yang pantas dia lihat,mendengar apa yang pantai dia dengar, merasa apa yang pantas dia rasa, berpikir apa yang pantas dia pikir, berkelakuan apa yang dia lakukan dan hidup yang sepantasnya dijadikan kehidupan.

Maskulinitas dalam cerpen ini menggambarkan sifat lelaki sejati yang menjadi impian anak remaja perempuan. Maskulinitas didalam cerpen mudah difahami dengan cara kita menelaah dan membaca dengan teliti manakah tokoh yang digambarkan serta dijelaskan dengan pandangam teori maskulinitas. Dalam pandangan maskulinitas tidak hanya untuk menjelaskan tentang tokoh laki-laki saja akan tetapi tokoh perempuan pun juga bisa dilihat dari pandangan maskulinitas sastra seperti bagaimana maskulinitas perempuan dalam menjadi pemimpin. Pemimpin lebih banyak adalah dari kaum laki-laki karena mungkin dalam hal ini perempuan tidak ada kesetaraan genre dengan laki-laki.

Membahas tentang maskulinitas dalam cerpen ini lebih terhadap sudut pandang yang spesifik kecil saja yaitu tentang tokoh lelaki sejati. Tetapi akan sedikit kita singgung tentang beberapa tentang maskulinitas. Maskulinitas atau maskulin berasal dari kata muscle atau otot yaitu sifat-sifat yang mendasarkan pada kekuatan otot, dari penjelasan ini banyak perspektif dari kata kekuatan bisa kita jabarkan lebih luas lagi karena maskulin tidak hanya perihal otot yang kuat melainkan juga bagaimana sifat lelaki yang sebenar-benarnya. Dari sifat juga bisa menjadi sudut pandang untuk maskulinitas seseorang laki-laki seperti serang pemimpin laki-laki pasti akan memiliki sifat tegas, tanggung jawab dalam kepemimpinannya ini juga bisa dikatakan sebagai maskulinitas. Akan tetapi penjelasan ini adalah sisi maskulinitas dalam hal yang umum jika dikerucutkan dalam ruang lingkup sastra maka akan lebih spesifik lagi karena karya sastra lah yang akan ditelaah dari pandangan maskulinitasnya.

Dalam kegiatan menelaah membaca, mencermati suatu karya sastra dan kita melakukan hal tersebut maka bisa dimasukkan ke dalam ilmu wacana kritis. Kita dapat menelaah semua hal yang bisa dikaitkan dengan maskulinitas atau feminitas asalnya kita faham dulu akan pengertian keduanya, bisa kita kaitkan dengan sastra seperti cerpen yang sudah ada pasti di dalamnya ada pandangan maskulinitas jika tokoh tersebut laki-laki ataupun perempuan tetapi dengan sifat maskulinnya.

Baca juga: Feminisme dalam Novel “Asya Story”

Mahasiswi at IAI Al-Qolam Malang | + posts

Alumni pondok pesantren Al-Khoirot putri, mahasiswi aktif di IAI Al-Qolam Malang, Sedang mengabdi di Madrasah Aliyah dan madrasah Diniyah Al-Khoirot putri

Avatar

Ita Nur Aini

Alumni pondok pesantren Al-Khoirot putri, mahasiswi aktif di IAI Al-Qolam Malang, Sedang mengabdi di Madrasah Aliyah dan madrasah Diniyah Al-Khoirot putri