Artikel

Menjalin Romantisme dalam Bahtera Rumah Tangga

Menjalin rumah tangga adalah salah satu sunnah dari Rosululloh SAW.Bahkan sudah disebutkan pula dalam firman Allah SWT surat Ar-rum ayat 21 yang berbunyi “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang”. Dari  ayat tersebut terdapat kandungan bahwa Allah telah menciptakan pasangan untuk memberikan ketentraman untuk masing-masing diri manusia,tidak hanya itu didalam rumah tangga juga banyak sekali puing-puing pahala yang bisa diraih. Selain menjalin rumah tangga bisa memberikan ketentraman pada masing-masing diri manusia,tak luput juga akan banyak hal-hal yang harus dipelajari lebih terkait dengan pasangan.

Beralih dari menjalin rumah tangga terdapat beberapa hal yang perlu diketahui atau bahkan harus dikuasai. Sudah tidak asing bagi kita dengan do’a ketika seseorang hendak membangun bahtera rumah tangga, yakni Sakinah Mawaddah Warahmah. Sebuah do’a yang begitu diimpikan oleh setiap pasangan yang hendak menjalin bahtera rumah tangga . Dengan arti rumah tangga yang tenang, penuh rasa cinta serta penuh kasih sayang. Tidak hanya itu dalam bahtera rumah tangga juga ada salah satu cara yanh bisa dilakukan agar hubungan tetap harmonis dengan jangka waktu yang terbatas. Satu langkah tersebut adalah mengusahakan untuk menjalin romantisme dalam bahtera rumah tangga, dan tentunya usaha tersebut dilakukan oleh kedua pihat yakni dari pihak suami maupun istri.

Romantisme menurut KBBI adalah  haluan kesusastraan akhir abad ke-18 yang mengutamakan perasaan, pikiran, dan tindakan spontanitas; aliran dalam seni (drama) yang mengutamakan imajinasi, emosi, dan sentimen idealisme. Romantisme adalah salah satu aliran sastra yang didalamnya mengandung nilai-nilai perasaan serta rasa cinta yang penuh. Tidak jauh beda dengan romantisme yang harus diupayakan dan dijalin dengan sempurna dalam bahtera rumah tangga terutama dalam ruang lingkup agama. Tidak hanya itu terdapat pendapat lain mengenai romantisme yang diucapkan oleh Ning Imaz Fatimatuz Zahra, bahwa romantisme itu adalah gesture yang mana sangat penuh dengan perasaan serta ketulusan. Dari sini romantisme dalam suatau hubungan bahtera rumah tangga tidak hanya perihal memberi bunga ataupun candle night dinner (makan malam romantic), tidak juga dengan hal-hal yang membutuhkan effort yang lumayan tinggi dan tentunya akan lebih menghabiskan biaya akan hal itu.

Mengenai romantisme dalam bahtera rumah tangga sebenarnya sudah Rosulullloh SAW contohkan dengan perilaku beliau terhadap istri-istrinya. Dari beberapa sikap serta cara Rosululloh SAW memperlakukan istrinya sesuia yang dibutuhkan. Terdapat satu contoh singkat mengenai romantisme yang patut kita ambil ibrahnya dari kisah Rosululloh SAW tersebut. Pada suatu hari tepat ketika Rosululloh SAW uzlah yakni menyendiri dari siapapun tepatnya di gua hira’ tempat dimana beliau mendapatkan wahyu pertama kali. Disitu tidak pernah lupa istri tercinta dari Rosululloh SAW yakni Sayyidah Siti khodijah selalu mengunjunginya dengan membawakan bekal. Sayyidah khodijah melakukan hal itu setiap hari dengan penuh perasaan serta penuh perhatin,dari kisah ini bahwa beliau sudah memberikan contoh tentang romantisme dalam bahtera rumah tangga. Selain itu juga terdapat kisah dimana Rosululloh SAW dengan istrinya yang lain,yakni Shafiyah bintu huyay seperti dalam hadits yang Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, dalam sebuah hadits perjalanan pulang dari penaklukan Khaibar:

خَرَجْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ قَالَ فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَوِّي لَهَا وَرَاءَهُ بِعَبَاءَةٍ ثُمَّ يَجْلِسُ عِنْدَ بَعِيرِهِ فَيَضَعُ رُكْبَتَهُ فَتَضَعُ صَفِيَّةُ رِجْلَهَا عَلَى رُكْبَتِهِ حَتَّى تَرْكَبَ

Artinya, “Kami keluar menuju Madinah.” Anas berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW menyiapkan tempat duduk Shafiyah di belakangnya dengan kain, kemudian ia duduk di dekat untanya dan memosisikan lututnya, lantas Shafiyah meletakkan kakinya di atas lutut beliau hingga naik (ke unta).”  (HR Bukhari [nomor 2679]).

Terdapat beberapa perilaku dan sikap Rosululloh SAW yang mencontohkan bahwa romantisme dapat dilakukan dengan hal yang sederhana namun bisa menyenangkan pasangan. Dan sikap serta perilaku tersebut terdapat dalam beberapa hadits yang diriwayatkan oleh istrinya.

  1. Minum dan makan dari bekas istrinya.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah yang artinya , “Terkadang Rasulullah SAW disuguhkan sebuah wadah (air) kepadanya, kemudian aku minum dari wadah itu sedangkan aku dalam keadaan haid. Lantas Rasulullah SAW mengambil wadah tersebut dan meletakkan mulutnya di bekas tempat minumku. Terkadang aku mengambil tulang (yang ada sedikit dagingnya) kemudian memakan bagian darinya, lantas Rasulullah SAW mengambilnya dan meletakkan mulutnya di bekas mulutku.” (HR Ahmad [nomor 24373]).

  1. Menghapus air mata istrinya ketika menangis sedih

Hadist ini diriwaytkan oleh sahabat nabi Anas bin malik RA  yang artinya, “Suatu ketika Shofiyah bersama Rasulullah SAW dalam perjalanan. Sedangkan hari itu adalah bagiannya. Tetapi Shofiyah sangat lambat sekali jalannya, lantas Rasulullah SAW menghadap kepadanya sedangkan ia menangis dan berkata, ‘Engkau membawaku di atas unta yang lamban.’ Kemudian Rasulullah SAW menghapus air mata Shofiyah dengan kedua tangannya.” (HR Nasa’i dalam As-Sunanul Kubra [nomor 9162]).

  1. Memberikan ciuman kasih sayang

Langsung diriwayatkan dari istri Rosululloh SAW sendiri yakni Sayyidah Aisyah RA yang artinya, “Sungguh Nabi SAW ketika mencium salah satu istrinya, beliau mengecup lidahnya.” (HR Maqdisi dalam Dzakhiratul Huffazh [nomor 1568]).

  1. Menyembuhkan amarah istri dengan penuh cinta

Diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah RA yang artinya, “Ketika Aisyah marah, maka Nabi SAW mencubit hidungnya dan berkata, “Wahai ‘Uwaisy (panggilan kecil Aisyah), katakanlah, ‘Ya Allah, Tuhan Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkanlah kemarahan di hatiku dan selamatkanlah aku dari fitnah yang menyesatkan.”

  1. Mandi bersamaan dengan istri

Yang diriwayatkan oleh istri Rosululloh SAW sendiri Sayyaidah Aisyah RA,yang artinya“Dahulu aku mandi junub bersama Rasulullah SAW dari satu bejana di mana tangan kami bergantian (mengambil air) di dalamnya.” (HR Bukhari [nomor 253] dan Muslim [nomor 484], Ibnu Hibban [nomor 1118] mencantumkan riwayat tambahan, “Sedangkan tangan kami saling bertemu (bersentuhan).”

Tidak hanya sikap atau perilaku romantis saja yang harus dijalin dalam bahtera rumah tangga melainkan banyak hal-hal yang harus difahami juga. Diantaranya adalah adanya komitmen dalam suatu hubungan antar pasangan, yakni komitmen untuk beribadah,komitmen untuk saling menyayangi, komitmen untuk saling membahagiakan. Terdapat juga yang harus juga diketahui oleh setiap pasangan,yakni menjaga komunikasi yang efektif. Komunikasi yang baik adalah yang berjalan dua arah,tidak hanya meletakkan kemauan dan keinginan dari salah satu pihak,dari pihak istri maupun suami. Dan dalam suatu hubungan tidak hanya dibutuhkan komunikasi yang efektif saja,melainkan harus juga ada respect yakni menghargai pasangan. Dari hal komunikasi ada juga tatacara yang perlu difahami,diantaranya tidak meninggikan suara ataupun intonasi terhadap pasangan,membicarakannya dengan cara yang halus,tidak menyalahkan pasangan atau menuduh pasangan atau biasa kita fahami dengan ngejudge,melihat timer atau waktu kapan kita akan berkomunikasi. Juga harus dijauhi perkataan yang dengan tidak sadar sudah menampakkan makna tuduhan seperti” Mas nih tidak peka ke istrinya!”,dari perkataan tersebut maka suami akan merasa bahwa dirinya tertuduh dan istri tidak menghargai usahanya. Maka dampaknya suami akan malas dan enggan mendengarkan pembicaraan kita,dan suami dengan tidak sadar dia akan malas untuk meperbaiki diri.

Melangkah lebih mengenai memahami pasangan,agar bahtera rumah tangga tetap romantis. Beberapa cara agar meminimalisir pertengkaran dalam bahtera rumah tangga selain adanya komunikasi yang efektif serta respect yang penuh pada pasangan,terdapat juga satu hal yang amat sangat berkaitan dengan keduanya yakni saling memahami. Contoh mudahnya ketika istri kesal melihat suaminya yang terus saja bermain dengan hand phonenya,cara yang baik untuk istri mengingatka suaminya harus dengan cara yang halus agar tidak menyinggung perasaan suaminya. Dari cara menyampaikan perasaan istri dengan bahasa dan cara yang benar maka suami akan memahami apa maksud dari istrinya. Karena sudah kodratnya seorang perempuan adalah lebih dominan dengan perasaannya dari pada logikanya,begitupun sebaliknya seorang lelaki lebih dominan atas logikanya dari pada perasaannya. Oleh karena itu penting bagi kita perempuan tidak hanya mengutamakan perasaannya melainkan juga menggerakkan logika kita,sebaliknya bagi seorang lelaki tidak hanya fokus dengan logikanya saja akan tetapi juga berusaha menyesuaikan dengan perasaanya.

Baca juga : Gemar Pamer Kekayaan, Bikin Sulit Dapat Teman?

Mahasiswi at IAI Al-Qolam Malang | + posts

Alumni pondok pesantren Al-Khoirot putri, mahasiswi aktif di IAI Al-Qolam Malang, Sedang mengabdi di Madrasah Aliyah dan madrasah Diniyah Al-Khoirot putri

Avatar

Ita Nur Aini

Alumni pondok pesantren Al-Khoirot putri, mahasiswi aktif di IAI Al-Qolam Malang, Sedang mengabdi di Madrasah Aliyah dan madrasah Diniyah Al-Khoirot putri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *