HikmahKeislaman

Menghormati Seseorang Dari Ilmunya Bukan Dari Nasabnya

Menghormati Seseorang Dari Ilmunya Bukan Dari Nasabnya

Di dalam Al-Qur’an Al-Mujadalah Ayat 11: Allah Mengangkat Derajat Orang Berilmu Allah firman:

 يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْر

Artinya: “Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Al Thanthawi dalam tafsirnya Al Wasith, menjelaskan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang beriman yang berilmu. Akan tetapi Tingginya derajat itu hanya diketahui oleh Allah. Artinya  derajat kemuliaan seseorang di hadapan Allah ialah seseorang yang beriman sekaligus berilmu, Dengan demikian, kemuliaan tidak diukur dari nasab. Tapi hanya dari iman dan ilmu.

Ayat  di atas sangatlah jelas bahwa seseorang itu akan di angkat derajatnya oleh Allah SWT jikalau orang itu berilmu, Tapi bagaimana jikalau ada seseorang yang keturunan habaib atau kyai tapi ia tidak berilmu apakah wajib menghormatinya?. Ya dengan rasa kemanusiaan maka kita tetap dianjurkan untuk menghormati mereka. Tapi anak dari habaib atau kyai jika ia tidak berilmu ia akan kalah dengan anak pemulung tapi berilmu. Kalau hal ini dipahami dengan baik oleh kalangan umat Islam, hal ini tidak akan terjadi klaim merasa paling mulia dan paling utama. Malu rasanya jikalau mengaku orang paling mulia, apalagi merasa paling benar. Kiai, habib, tidak ada bedanya dengan orang-orang pada umumnya dalam hal kemuliaan di sisi Allah. Penghormatan di dunia yang diberikan oleh orang lain tidak menjamin kemuliaan seseorang di hadapan Allah kelak. Kalau begitu, untuk apa meributkan nasab?

Salah satu kelebihan orang berilmu selain mendapat derajat yang tinggi juga mendapatkan doa-doa dari makhluk Allah yang lain yaitu hewan-hewan yang hidup di daratan maupun di laut.

وَإنَّ العَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّماوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ حَتَّى الحيتَانُ في المَاءِ رواه أَبُو داود والترمذي

“Sesungguhnya semua yang ada di langit dan di bumi itu selalu memohonkan ampunan bagi orang yang berilmu, termasuk ikan paus di laut.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Hal ini tidaklah mengherankan, karena ilmuwan atau orang yang berilmu dengan ilmu yang benar akan juga memperhatikan nasib sesama makhluk hidup. Rasulullah bersabda:

من تعلم بابا من العلم يعمل به أو لم يعمل به, كان أفضل من أن يصلي ألف ركعة تطوعا

Artinya: Barang siapa yang belajar satu bab ilmu baik itu nanti diamalkan ataupun tidak maka dia lebih utama dari orang yang shalat sunnah sebanyak seribu rakaat. Hadis ini menunjukkan bahwasanya ilmu itu lebih mulia semulia permata daripada ibadah sunnah yang lain Maka dari itu seharusnya seorang hamba ketika melaksanakan ibadah seharusnya disertai dengan ilmu agar ilmunya tidak sama dengan debu yang kocar kacir.

Dengan demikian orang berilmu tetaplah lebih menonjol dari pada orang yang hanya menonjolkan ia keturunan siapa. Meskipun ia anak dari seorang pemulung akan tetapi berilmu ia akan lebih tinggi derajatnya dari pada keturunan habaib atau kyai. Sayyid Alwi bin  Ahmad As-segaf dalam karyanya yaitu Ilajul Amradhir Radiyyah bi Syarhil Washiyyatil Haddadiyyah beliau mengatakan bahwa berbahaya bagi orang-orang yang mengagungkan nasabnya tanpa berbuat amal saleh dan tanpa memperbaiki diri melalui akhlak terpuji. Sayyid alwi bin ahmad as-segaf mengingatkan kepada masyarakat waktu itu agar tidak mengikuti orang-orang bodoh yang sombong dan membagakan diri dengan bangganya mengatakan :

واحذر وإياك من قول الجهول أنا وأنت دوني في فضل وفي نسب فقد تأخر أقوام وما قصدوا نيل المكارم واستغنوا بكان أبي

Artinya, “Waspadalah dan hati-hatilah terhadap perkataan orang bodoh, ‘’Aku (lebih mulia),’ sementara kamu lebih lebih rendah dari segi keutamaan dan dari segi nasab.’ Sekelompok orang itu tertinggal. Mereka tidak mengejar kemuliaan, tetapi mencukupkan diri dengan ‘Ayahku (kakekku) adalah …,’” (Alwi bin Ahmad As-Segaf, ‘Ilajul Amradhir Radiyyah bi Syarhil Washiyyatil Haddadiyyah pada hamisy Majmu‘ati Sab‘ati Kutub Mufidah, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa tahun], halaman 93).  Menurut Sayyid Alwi bin Ahmad As-Segaf, banyak orang bodoh terpedaya dengan kebanggaan seperti ini. Mereka tidak lagi mengejar kebaikan, mengapai derajat tinggi, dan berakhlak dengan akhlak luhur terpuji. Mereka merasa cukup dengan membanggakan nasabnya, “Ayahku adalah fulan bin fulan…” mereka tidak meneladani kebaikan dan kesalehan ayah dan kakek mereka baik amal saleh, akhlak, dan perilaku luhur terpuji.

KH. Afifuddin Al-Muhajir beliau adalah Wakil Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) beliau Ketika mengatakan bahwa “Islam menempatkan orang alim pada posisi yang lebih tinggi dibandingkan orang yang punya nasab tinggi,” beliau menegaskan hal ini Ketika beliau menjadi pembiacara pada Annual International Conference for Islamic Studies (AICIS) 2023 di Surabaya, Kamis(4/5/2023) dilansir Kemenag. Kh. Afifuddim Al-Muajir beliau menceritakan ketika itu tentang kisah Rafi’ bin Mahram yang dikenal dengan sebutan Abul Aliyah. Ia adalah bekas hamba milik seorang wanita Bani Riyah yang kemudian menjadi tabi’in yang sangat teliti dari penduduk Basrah, dan terkenal dengan ahli fiqih dan Tafsir. Abul Aliyah Ar-Riyahi atau Rafi’ bin Mahram dilahirkan pada zaman Nabi Saw. Namun tidak pernah bertemu beliau Nabi Saw. Ia menginjak usia remaja dan masuk Islam pada masa khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq ra. Hal itu karena status dirinya sebagai seorang budak milik seorang wanita Bani Tamim dan baru dimerdekakan pada zaman khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu’anhu. Setelah dimerdekakan oleh tuannya, ia langsung mempergunakan waktunya untuk menimba ilmu dari para sahabat senior, tekun beribadah kepada Allah dan menyertai pasukan jihad ke negeri Transoxiana. Ia juga belajar hadist kepada para ulama sahabat senior; Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, Abu Dzar Al-Ghifary, Abdullah bin Mas’ud, Zaid bin Tsabit, Aisyah ummul mukminin, Abu Musa Al-Asy’ari, Abu Ayyub Al-Anshari, Abdullah bin Abbas dan lain-lain radhiyallahu’anhum.

Jadi kesimpulannya orang yang tinggi nasabnya tapi ia enggan untuk belajar karna ia mengangap dengan nasabnya yang tinggi derajatnya ia sudah cukup di hormati, itu hal yang salah karna orang yang tinggi derajatnya menurut Al-Qur’an sudah jelas bahwa orang berilmulah yang tinggi derajatnya. Di ambil dari cerita Rafi’ bin Mahram beliau bukan keturunan orang terpandang waktu itu melainkan beliau adalah hamba milik seorang wanita Bani Riyah yang kemudian ia menjadi seorang tabi’in dan ahli fiqh dan ahli tafsir.

Anak pemulung yang alim  lebih dimuliakan jika dia memiliki ketakwaan, ilmu, dan akhlak yang baik dibandingkan dengan keturunan habaib yang tidak berilmu dan tidak bertakwa. Intinya, dalam pandangan Islam, yang paling dimuliakan adalah mereka yang bertakwa, berilmu, dan berakhlak baik, tanpa memandang latar belakang keturunan atau status sosialnya.

Baca juga: Penjelasan Imam Nawawi Al-bantani tentang Tiga Ilmu yang Wajib Dipelajari Oleh Setiap Muslim