Pendidikan

Mengapa Kuliah Harus Sampai Doktor?

Mengapa Kuliah Harus Sampai Doktor? Jawaban singkatnya, karena itulah tujuan maksimal sebuah pendidikan akademis. Namun, manfaat memiliki gelar S3 tidak hanya itu.

Orang yang kuliah hanya sampai S1 itu ibarat orang mau pergi ke Jakarta tapi berhenti sampai di Semarang dan tidak melanjutkan perjalanan sampai selesai.

Seperti peserta lomba lari maraton 40 kilometer tapi berhenti ketika sampai 20 kilometer dan tidak mau melanjutkan lomba karena merasa capek dan tidak lagi memiliki energi dan motivasi untuk menyelesaikan kompetisi.

Saya selalu mendorong para santri Al-Khoirot dan seluruh generasi muda muslim secara umum untuk kuliah sampai batas maksimal. Yaitu sampai tingkat doktor atau S3 (strata tiga). Apapun jurusannya. Mengapa itu penting sekali? Berikut alasan dan uraian singkatnya:

1. Memperluas Jangkauan Dakwah

Setiap muslim diperintahkan untuk berdakwah (QS An-Nahl 16:125 ),  saling menasihati (QS Al-Asr 103:3), mengamalkan amar makruf nahi munkar (QS Ali Imran 3:110).  Tentu saja, dakwah harus dimulai dari diri sendiri dan keluarga (QS At-Tahrim 66:6).

Dengan demikian, dakwah terbagi menjadi dua: dakwah internal dan dakwah eksternal.

Apabila dakwah untuk diri sendiri dan keluarga sudah dianggap “selesai” dalam arti relatif sudah terjaga, maka dakwah pada level yang lebih luas menjadi suatu keniscayaan.

Seberapa luas dakwah eksternal yang dapat dicapai oleh seorang muslim akan sangat tergantung pada dua hal: keilmuan dan jabatan. Dan kedua hal ini umumnya akan saling terkait. Maka, dakwah dapat dilakukan dengan ilmu, dengan jabatan, dan dengan ilmu dan jabatan sekaligus.

1.1. Dakwah dengan ilmu

Dakwah dengan ilmu, terutama ilmu agama, dapat dilakukan oleh siapapun yang memiliki kemampuan itu. Walaupun sedikit. Karena, tidak ada yang mengatur kualifikasi ilmu yang mesti dimiliki untuk berdakwah. Semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin luas pengaruhnya dan semakin berpengaruh dakwahnya. Parameter tertinggi secara akademis adalah tingkat doktoral (S3) atau dari karya-karya tulis ilmiahnya.

1.2. Dakwah dengan jabatan

Semakin tinggi level keilmuan seseorang, maka akan semakin tinggi jabatan yang akan diamanahkan padanya. Dan semakin tinggi jabatan seseorang, maka akan semakin besar pengaruh dakwahnya pada komunitas yang berada di bawah otoritasnya. Misalnya, seorang berpangkat Dirjen, setingkat di bawah menteri, akan dapat mendakwahi seluruh pejabat yang berada di bawahnya. Cukup dengan membuat aturan tertentu. Seorang rektor suatu universitas akan dapat mengajak kebaikan pada seluruh jajaran civitas akademika universitas tersebut.

1.3. Dakwah dengan ilmu dan jabatan

Seorang yang level pendidikannya sudah tingkat doktor selain dapat berdakwah dengan ilmunya, melalui buku dan ceramahnya, juga memiliki kesempatan yang besar untuk menduduki jabatan tertinggi dalam suatu lembaga. Baik itu lembaga pendidikan, seperti universitas, maupun lembaga pemerintahan, seperti direktorat jenderal (dirjen), atau perusahaan. Kedua ilmu dan jabatannya dapat digunakan secara maksimal untuk mengajak kebaikan pada seluruh jajaran yang berada di bawahnya. Suatu jangkauan dakwah yang tidak bisa dilakukan oleh lulusan S1 atau S2.

2. Menggapai kesempatan dan peluang terbaik adalah efek samping

Jabatan hendaknya tidak menjadi tujuan utama dari usaha kita mencapai gelar doktor. Meningkatkan iman, memperbaiki akhlak dan mendapat radha Allah adalah tujuan utama dari mencari ilmu.

Bahwa saat Allah memberi peluang dan kesempatan bagi seorang doktor untuk menduduki jabatan tertentu yang tinggi itu adalah efek samping yang harus disyukuri dan tidak boleh ditolak. Justru itu menjadi kesempatan pula untuk mulai memperluas ladang dakwah.

Jabatan tidak dikejar mati-matian. Namun, saat memperolehnya maka akan digunakan untuk sebaik-baik manfaat dan maslahat. Baik untuk diri sendiri dan orang lain

3. Finish what you have started (selesaikan apa yang kamu mulai)

Berhenti kuliah hanya tingkat S2, apalagi cuma S1, adalah ibarat menghentikan pekerjaan di tengah jalan. itu menunjukkan jiwa yang rapuh dan lemah energi. Cepat merasa capek. Jiwa pecundang yang tidak berani berkompetisi. Padahal Allah secara tegas memerintahkan kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (QS Al Baqarah 2:148).

4. Memutus mata rantai kebodohan dan kemiskinan

Mayoritas muslim Indonesia berpendidikan rendah.Lihatlah lingkungan di sekitar kita.   Saudara, tetangga, kerabat dekat atau jauh, dll adakah dari mereka yang level pendidikannya mencapai S3? Tidak ada. Bahkan S2 pun jarang. Sementara kalangan non-muslim di Indonesia dan di luar negeri berlomba-lomba mengejar impian mereka untuk studi sampai S3.

Peningkatan dalam level pendidikan itu erat kaitannya dengan peningkatan dalam level ekonomi. Sedangkan kebodohan itu identik dengan kemiskinan. Maka, peningkatan level pendidikan berarti juga peningkatan pada level status ekonomi. Ini berarti, pendidikan tinggi dapat memutus mata rantai kebodohan dan kemiskinan sekaligus.

5. Berkontribusi untuk kemaslahatan dunia

Umat Islam selama ini, setidaknya empat abad terakhir, hanya menjadi penonton dan konsumen dari semua kemajuan sains dan teknologi dunia yang dikembangkan negara Barat, Rusia, China dan Jepang, dll.  Dengan munculnya para ilmuwan dan saintis muslim nantinya, yang minimal berlevel doktor di berbagai bidang, akan memunculkan saintis muslim dalam skala masif yang dapat memberikan sumbangan pada kemaslahan umat dan kemanusiaan.

Baca juga: Jihad dengan Pendidikan

 

 

 

Website | + posts

A Fatih Syuhud; adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang. Penulis masalah Islam, pendidikan, pesantren dan politik. Tulisan opininya yang pernah dimuat di Kompas, Republika, dan lain-lain sudah dibukukan dengan judul, Islam dan Politik: Sistem Khilafah dan Realitas dunia Islam. Catatan Harian-nya di fatihsyuhud.com (dalam Bahasa Inggris) pernah dinobatkan Majalah Tempo (edisi 6 Agustus 2006) sebagai #1 dari 10 Penulis Blog Terbaik. Di Al-Khoirot mengajar kitab berikut: Tafsir Jalalain, Sahih Bukhari, Al-Umm, Muhadzab, Fathul Wahab, Iqna' dan Ibanah al-Ahkam. . Buku-buku yang sudah terbit dapat dilihat di Google Play Store.

Avatar

A. Fatih Syuhud

A Fatih Syuhud; adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang. Penulis masalah Islam, pendidikan, pesantren dan politik. Tulisan opininya yang pernah dimuat di Kompas, Republika, dan lain-lain sudah dibukukan dengan judul, Islam dan Politik: Sistem Khilafah dan Realitas dunia Islam. Catatan Harian-nya di fatihsyuhud.com (dalam Bahasa Inggris) pernah dinobatkan Majalah Tempo (edisi 6 Agustus 2006) sebagai #1 dari 10 Penulis Blog Terbaik. Di Al-Khoirot mengajar kitab berikut: Tafsir Jalalain, Sahih Bukhari, Al-Umm, Muhadzab, Fathul Wahab, Iqna' dan Ibanah al-Ahkam. . Buku-buku yang sudah terbit dapat dilihat di Google Play Store.