ArtikelUmum

Isu Bias Gender Yang Tak Kunjung Usai

Entah mengapa isu tentang bias gender tak kunjung usai, terutama di Indonesia Negara kita tercinta ini. Kita tahu betul jika di zaman sekarang tingkat bias gender sangat tinggi, berbagai kasus mengenai diskriminasi gender semakin tak terkendali, tidak hanya di Indonesia saja tetapi juga di berbagai belahan dunia.

Sudah begitu banyak contoh yang terjadi dalam masalah ini, seperti bisa kita lihat dari kesenjangan di 149 negara dan skor untuk Negara-negara di Asia Tenggara terbilang buruk karena masih jauh dari skala satu yang menunjukkan kesetaraan, tingginya gap upah antar gender katakanlah di Indonesia dimana tercatat pada tahun 2017 pengahsilan yang di peroleh antara laki-laki dan perempuan cukup mengalami perbedaan yang signifikan yakni upah laki-laki sebesar $15.536 sedangkan untuk perempuan adalah $7.632 dan masih banyak lagi

Williams J. 1990 dalam Sullivan Racusin,Lopez, & Williams 2018 mengatakan jika adanya bias genderlah yang kemudian melahirkan stereotip dan diskriminasi gender di masyarakat dimana perempuan secara umum di stereotipkan sebagai individu yang memiliki peran komunal yaitu sebagai peran pendukung , perawat dan pengasuh. Sedangkan laki-laki di stereotipkan sebagai sosok individu mandiri dan bisa memimpin. Oleh karena steorotip inilah yang kemudian memunculkan diskriminasi antara kaum adam dan kaum hawa. Hal ini bisa kita lihat dari lebih sedikitnya peluang bagi perempuan untuk di promosikan dan naik jabatan dari pada kalangan laki-laki, adanya kesenjangan antara tingkat upah yang di dapat oleh kaum hawa dengan kaum adam. Lebih menariknya lagi perempuan akan mendapat banyak cemohan dari orang-orang di sekitarnya jika berkeinginan meneruskan study-nya hingga ke jenjang S3, berbeda dengan laki-laki yang di tuntut untuk menuntut ilmu hingga ke jenjang yang pendidikan yang tinggi.

Padahal sejatinya dalam konteks menuntut ilmu, siapapun memiliki hak yang sama baik laki-laki ataupun perempuan. Tidak benar jika seandainya ada orang yang mengatakan jika seorang perempuan tidak perlu menuntut ilmu hingga ke jenjang perkuliahan bahkan sampai S3 karna pada dasarnya setiap orang tetap membutuhkan ilmu yang memadai dalam melanjutkan keberlangsungan hidupnya. Sebenarnya seseorang yang mengatakan jika wanita tidak perlu sekolah yang tinggi adalah termasuk pembodohan. Bagaimana tidak, jika di telaah lagi kaum hawa memilki peran yang sangat penting dalam pemberdayaan manusia karna mereka adalah madrasah pertama bagi para calon putra-putri penerus bangasa selanjutnya. Mereka adalah seorang pendidik pertama bagi seorang anak-anak mereka. Bagaimana mereka akan dapat berhasil mendidik anak-anaknya jika dalam secara keilmuan saja mereka masih rendah? Jika saat masa muda mereka tidak di perbolehkan menuntut ilmu kejenjang yang lebih tinggi?. Wanita akan dicibir oleh orang-orang di sekitarnya jika pulang saat larut malam, walaupun keluar rumah tersebut adalah untuk hal kebaikan, seperti menuntut ilmu dan lain sebagainya, lain hal nya dengan laki-laki.

Oleh sebab itu ini sudah menjadi tugas kita bersama untuk mengubah mindset setiap orang akan adanya diskriminasi antara laki-laki dan perempuan terutama dalam masalah menuntut ilmu. Hal ini tentu di mulai dari diri kita sendiri, dengan menyadari akan harus segera dituntaskannnya masalah diskriminasi gender ini. Tidak terbayang jika steropi tentang perempuan seperti diatas ini masih berlanjut, tentulah hal ini akan berakibat fatal untuk jangka panjang yang akan datang di masa depan. Semakin perempuan tidak memiliki kualitas dalam keilmuan, maka akan semakin menurun pula kualitas para calon pemegang tongkat estafet masa depan bangsa. Sebagaimana maqolah salah satu ulama “kualitas suatu bangsa dapat di lihat dari seberapa berkualitasnya kaum perempuan di Negara tersebut”.

Baca : Keterampilan itu Perlu

+ posts

Mahasiswa IAI Al-Qalam Malang, alumni pondok pesantren Al-Khoirot putri

Avatar

Vina Lailatul Masykuro

Mahasiswa IAI Al-Qalam Malang, alumni pondok pesantren Al-Khoirot putri