Artikel

Islamisasi Sains Menurut Pandangan Pervez Hoodbhoy

Pendahuluan

Al-Quran merupakan sebuah kitab yang memperkenalkan dirinya sebagai pemberi penjelasan, petunjuk dan kabar gembira bagi umat muslim, artinya disamping sebagai kitab suci, Al-Qur’an juga merupakan sebuah kitab yang menjadi pedoman petunjuk bagi umat manusia yang mengimaninya untuk dapat memberikan solusi terhadap permasalahan-permasalahan mereka dalam menjalani kehidupan di dunia dan mencapai kehidupan indah yang abadi di akhirat. Maka dari itu, manusia berkewajiban untuk memahami petunjuk-petunjuk yang ada dalam Al-Qur’an untuk bisa mencapai keharmonisan mereka di kehidupan dunia dan akhirat.

Perkembangan sains merupakan salah satu faktor utama bagi umat manusia untuk terus mengembangkan peradabannya selama berabad-abad dan selama hidup di dunia. Oleh karena itu  untuk menunjukkan pentingnya berilmu pengetahuan yang luas, Allah dalam Al-Qur’an secara eksplisit menyebutkan bahwa Allah sendiri akan mengangkat derajat orang-orang yang selalu senantiasa berkecimpung dalam dunia ilmu pengetahuan baik yg berhubungan dengan duniawi ataupun yg berkhubungan dengan ilmu ukhrowi,  sebagaimana di sebutkan dalam (QS. al Mujadalah: 11)

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Artinya: “…Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Ayat tersebut pada dasarnya menunjukkan betapa pentingnya manusia untuk terus menuntut ilmu setinggi mungkin, karena melalui ilmu pengetahuan manusia akan mengetahui dengan sebenar-benarnya kekuasaan Allah dan inti dari substansi ke agamaan yang sebenarnya. Pada era ini manusia sudah mencapai kemajuan yang sangat pesat dibanding sebelum-sebelumnya (sebelum abad ke 14), perkembangan tersebut dapat ditunjukkan dengan berkembangnya teknologi yang berhasil diciptakan oleh manusia sendiri melampaui batas pemikiran mereka di masa lampau.

Berkat kemampuan berpikir yang diberikan Allah, manusia menduduki derajat tinggi dibandingkang makhluk lainnya dengan memegang peran sebagai khalifatullah dimuka bumi ini, sehingga mereka terus berupaya untuk maju melalui pemikiran kritisnya agar bisa memakmurkan bumi dan peradaban mereka, salah satunya dengan terus belajar baik melalui instansi Pendidikan yang ada ataupun belajar secara otodidak untuk dapat memperoleh pengetahuan yang luas, sesuai dengan insting keingin tahuan yang dimiliki manusia.

Adanya perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat menuntut manusia untuk terus berpikir secara kritis demi mengembangkan pengetahuan mereka. Salah satunya banyak dari para tokoh pemikir Islam yang berusaha untuk mengintegrasikan antara sains dan agama dengan tujuan agar umat muslim bisa kembali ke masa ke emasannya, sehingga dengan diadakannya konsep Islamisasi sains tersebut, tidak sedikit menimbulkan ke tidak setujuan diantara para akademisi yang berpikiran sebaliknya. Pervess Hoodbhoy sebagai tokoh yang tidak menyetujui adanya integrasi tersebut menyatakan bahwa Al-Qur’an bukanlah kitab sains, namun meskipun begitu manusia dalam menerapkan ilmu pengetahuannya mengembalikan sains kepada Al-Qur’an, untuk dapat menghindari sikap takabur dan kehewaniannya. Karena Al-Qur’an meskipun bukan kitab sains namun di dalamnya secara eksplisit banyak menerangkan tentang segala apa yang ada dan terjadi dibumi ini dan dengan sainslah kita membuktikannya tanpa harus ada yang namanya Islamisasi sains, karena keduanya memiliki cara pembuktian metode kebenaran yang berbeda.

Dari penjelasan di atas perlu kiranya penulis mengkaji pendapat-pendapat mengapa tidak perlu mengadakan Islamisasi sains menurut pandangan Pervess Hoodboy, seperti diketahui para cendekiawan muslim dalam beberapa tahun terakhir banyak memperbincangkan tentang konsep ide Islamisasi Sains ini, baik yang pro ataupun yang kontra. Maka dari itu di dalam paper ini akan penulis jelaskan secara singkat alasan pandangannya atas ketidak setujuan terkait adanya konsep Islamisasi sains dari pandangan Pervess Hoodboy sebagai salah satu seorang Fisikawan terkenal dikalangan umat muslim dan Abdussalam sebagai tokoh muslim yang pernah meraih nobel sains.

Pembahasan

Semenjak adanya konsep pemikiran Islamisasi Sains tidak sedikit dikalangan para cendekiawan muslim terjadi diskusi dan perbincangan yang sangat panjang dengan melontarkan berbagai argumen-argumennya dari setiap pemikirannya. Salah satu tokoh yang mendukung dan mengakui adanya konsep Islamisasi sains adalah Ziauddin Zardar, Isma’il Raji’ Al-faruqi, Sayyed Husen Nasr dan Sayyid Muhammad Naquib Al-attas. Konsep Islamisasi sains berawal dari keprihatinan mereka yang mencermati bahwa dalam beberapa dekade terakhir setelah keruntuhan masa ke emasan Islam pada masa Daulah Abbasiyah, umat muslim terus mengalami kemunduran baik dari segi politik, ekonomi, budaya dan yang sangat mirisnya yaitu ketertinggalan dalam dunia pendidikan. Al-Faruqi menyebut hal ini sebagai masalah besar yang dihadapi umat muslim dan belum bisa diselesaikan sampai saat ini. Mengingat umat muslim dulu pernah menduduki masa ke emasan tidak hanya dalam ilmu ke agamaan saja melainkan ilmu pengetahuan juga berhasil diraihnya dengan signifikan, hingga berhasil melahirkan matematikawan yang terkenal sampai saat ini yaitu Al-Khawarizmi

Lebih lanjut Isma’il Raji’ Al-Faruqi dalam memperkuat konsep Islamisasi sainsnya mengatakan, bahwa kebenaran wahyu dan kebenaran akal itu tidak bisa di pertentangkan karena keduanya saling berhubungan dan saling melengkapi. Walau bagaimanapun kepercayaan terhadap agama yang di dapatkan dari wahyu ilahiyah merupakan pemberian dari Allah untuk menuntun manusia kepada kehidupan yang lebih layak, sedangkan akal pikiran merupakan kemampuan khusus yang diberikan Allah kepada manusian menopang perannya dalam menjalankan fungsinya sebagai khalifatullah di muka bumi ini. Akal diciptakan oleh Allah untuk dapat digunakan dalam mencari kebenaran yang se utuhnya. Menurut Al-Faruqi dimensi dalam mencari kebenaran tidak lepas dari tiga unsur berikut:[1]

  1. Kesatuan kebenaran tidak boleh bertentangan dengan realitas, sebab wahyu merupakan firman dari Allah yang pasti cocok dengan realitas.
  2. Kesatuan kebenaran yang dirumuskan, antara wahyu dan kebenaran tidak boleh ada pertentangan, karena prinsip ini bersifat mutlak.
  3. Kesatuan kebenaran sifatnya tidak terbatas dan tidak ada akhir. Karena pola dari Allah sifatnya tidak terhingga. Oleh karena itu diperlukan sifat yang terbuka terhadap segala sesuatu yang baru.

Kesepakatan sebagai pendukung adanya konsep Islamisasi sains, tidak langsung muncul begitu saja, tentunya Isma’il Raji’ Al-Faruqi memiliki harapan besar dengan adanya timbal balik yang positif dari  diadakannya konsep Islamisasi sains itu sendiri antara lain:[2]

  1. Menguasai disiplin modern.
  2. Menguasai warisan Islam.
  3. Menetapkan relevansi khusus pada setiap bidang ilmu pengetahuan modern.
  4. Mencari jalan untuk sintesis khusus kreatif antara warisan (Islam) dan ilmu pengetahuan modern.
  5. Meluncurkan pemikiran Islam pada jalan yang mengarah pada kepatuhan pada hukum Tuhan.

Sependapat dengan Al-faruqi tentang konsep Islamisasi Sains, Sayyid Muhammad Naquib Al-Attas menyatakan Islamisasi sains merupakan salah satu jalan utama pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis dan animistis nasional kultural kepada kebenaran yang hakiki melalui jalan konsep sains yang berdasarkan ilmu empirik dengan tetap tidak mengubah konsep kebenaran mutlak ilahiyah. Kemudian adanya Islamisasi sains juga merupakan pengendalian sifat-sifat sekuler yang selama ini diderita umat muslim menjadi nalar yang luas, oleh karena itu sifat Islamisasi sains bisa dikatakan juga sebagai suatu proses pembebasan sekuler ke dimensi nalar.

Adapun pandangan dari pihak yang menolak terkait adanya konsep Islamisasi sains ini diutarakan oleh Pervez Hoodbhoy seorang fisikawan muda yang cukup terkenal di Universitas Quadiazam, Pakistan. Hoodbhoy berpandangan sebaliknya dengan para cendekiawan muslim yang mendukung konsep Islamisasi sains seperti Ziauddin Zardar, Isma’il Raji’ Al-faruqi, saayid Husain Nasr dan Sayyid Muhammad Naquib Al-attas. Beliau dengan tegas menentang semua konsep Islamisasi sains yang telah digagas  oleh para pendahulunya. Hoodbhoy dalam bukunya Islam and Science menyatakan, tidak ada yang dinamakan ilmu sains Islam karena pada dasarnya asal sains adalah upaya sekuler, tidak mungkin selainnya. Akan tetapi bukan meskipun sains merupakan upaya sekuler tidak otomatis sains tidak mengakui eksistensi ketuhanan.

Para penggagas konsep Islamisasi sains perlu mengetahui, bahwa validasi dalam  kebenaran ilmiah yang ada dalam sains tidak pernah satupun berkaitan dengan otoritas spritual manapun. Dalam menemukan kebenarannya, sains perlu melakukan observasi, eksperimentasi, dan logika sehingga dapat diketahui dan diputuskan akan benar atau salahnya. Oleh karenanya seorang saintis bebas menjadi religius sebagaimana yang mereka kehendaki terlepas dari dalil ke agamaan.[3] Maka dari itu Islam dan sains pada hakikatnya memiliki ruang tersendiri namun seperti yang telah di jelaskan di atas meski keduanya memiliki ruang yang berbeda, sains tidak akan keluar dari eksistensi ketuhanan dan kemaha benaran Al-Qur’an.

Menurut Hoodbhoy di dunia ini hanya ada satu sains yang bersifat universal tidak ada sains Islam, sains Hindu, sains Kristen, sains Yahudi, dan sains Konghucu, serta sains-sains lain yang ditunggangi oleh ideologi-ideologi tertentu. Karena apabila sains ditunggangi oleh sebuah ideologi ke agamaan, maka akan sangat berbahaya, sebab bagaimana mungkin Islam sebagai agama yang mengandung kebenaran abadi dan mutlak atas kebenarannya, disandingkan dengan teori sains yang dapat berubah-ubah akan kebenarannya sesuai dengan waktu, perkembangan dan kajian dari para saintis.[4] Jika hal ini terjadi, tentu saja kitab suci (al Quran) tidak akan dianggap sebagai sesuatu yang maha benar lagi, karena telah bertentangan dengan realitas kebenaran sains yang terus berubah dan berkembang.

Oleh karena itu menurut Hoodboy semua upaya untuk mengislamkan ilmu otomatis mengalami kegagalan. Alasannya tentu saja universalitas dan objektivitas dari kedua ilmu itu sendiri (sains dan agama) sangat berbeda jauh. Lebih lanjut untuk memperkuat argumennya, Hoodboy mengajukan kasus Abdus Salam dan Stevenweinberg, dua fisikawan yang berbagi hadiah Nobel tahun 1976 dalam bidang fisika kerena keduanya telah berhasil menyatukan kekuatan-kekuatan lemah elektro magnetik yang ada pada alam, padahal yang satu (Abdus Salam) beragama Islam dan yang lain (Stevenweinberg) terus terang mengaku ateis.

Selain itu Hoodbhoy juga berpendapat jika para cendekiawan yang pro kepada terbentuknya konsep Islamisai sains terus memaksakan maka mereka sejatinya tidak akan mengarah kepada kebenaran. Banyak diantara para pelaku dan pembela sains Islam telah mengarahkan penelitian mereka kepada masalah yang terletak di luar wilayah sains. Misalnya masalah yang tidak dapat dibuktikan seperti “kecepatan malaikat”, “temperatur neraka”, “komposisi kimia neraka” dan contoh-contoh yang lainnya.[5] Dimana semua itu tentunya sampai kapanpun tidak akan bisa diukur dengan sains karena berada di luar kemampuan manusia. Oleh karena itu Pervez Hoodbhoy sangat tidak setuju diadakannya Islamisasi sains karena menurutnya agama dan sains itu memiliki ruang dan dimensi yang berbeda.

Senada dengan pendapat Pervess Hodbhoy yaitu pendapat seorang tokoh yang meraih nobel dalam bidang fisika yaitu Abdussalam, berpandangan bahwa hanya ada satu ilmu bersifat universal, lintas agama dan bangsa yang problem-problem dan modalitasnya adalah internasional sehingga tidak akan terikat dengan salah satu ideologi ke agamaan manapun, jika berkaitan dengan sains maka sejatinya akan tertuju kepada sekuler bukan kepada agama tertentu. Abdussalam menceraikan pandangan hidup Islam menjadi dasar metafisis kepada sains. Abdussalam meniadakan bahwa pandangan hidup seseorang akan selalu berhubungan dengan pemikiran dan aktivitas seorang ilmuwan, sebagaimana diungkapkan Alparsalan Acikgenc bahwa seorang saintis akan bekerja sesuai dengan perspektifnya yang berkaitan dengan kerangka dan pandangan hidup yang dimilikinya.”[6] Itulah beberapa alasan dan bantahan Perves Hoodbhoy dan Abdussalam untuk menyanggah ketidak setujuannya terhadap para cendekiawan yang selalu menggagaskan adanya konsep Islamisasi sains

Kesimpulan

Islam dan sains menurut Pervez Hoodbhoy memiliki ruang tersendiri atau berbeda terutama dalam metode validasi dalam menentukan suatu kebenaran. Oleh karenanya sangat tidak mungkin untuk di integrasikan antara sains dan Agama. Namun, meski keduanya memiliki ruang yang berbeda, sains tidak akan keluar dari eksistensi ketuhanan dan kemaha benaran Al-Qur’an, karena sejatinya akal pikiran manusia selaku pengembang sains tidak lain juga merupakan ciptaan dan pemberian dari Allah untuk manusia dalam menjalankan peran dan fungsinya sebagai khalifatullah di muka bumi ini.

Islam secara eksplisit dalam Al-Quran sebagai kitab suci sekaligus pedoman umat muslim sangat merekomendasikan dan menjunjung tinggi umatnya untuk mengerahkan segala kemampuannya dalam menggunakan akal pikirannya untuk mentadabburi apa yang ada di alam semesta ini melalui ilmu pengetahuan dan pendidikan yang tinggi. Sejatinya Al-Qur’an bukanlah kitab sains, tetapi segala pengetahuan tentang sains hendaknya dikembalikan ke dalam Al-Qur’an. Karena Al Qur’an secara jelas telah menerangkan segala sesuatu yang ada dan terjadi di bumi ini jauh sebelum sains dikembangkan. Melalui sains manusia akan mengetahui betapa maha benarnya Al-Qur’an tanpa harus ada integrasi diantara keduanya.

Baca juga : 7 Tanda Kebahagiaan di Dunia Menurut Ibnu Abbas

Daftar Rujukan

Habib, Zainal, Islamisasi Sains. Malang: UIN Malang Press, 2007

Hoodbhoy,Perves, Islam dan Sains. Bandung: Pustaka, 1997

http://repo.iain-tulungagung.ac.id/5831/5/BAB%202.pdf. Diakses pada 20 November 2019

Ulum, Bahrul, Islamisasi Ilmu Pengetahuan Tinjauan Atas Pemikiran Syed Naquib Alattas Dalam www.inpasonline.com, di akses pada 20 Desember 2019.

Syahrial, Islamisasi Sains dan Penolakan Fazlurrahman. Journal Lentera, Vol 01, No 01 Juni 2017

 


[1]Bahrul Ulum, “Islamisasi Ilmu Pengetahuan Tinjauan Atas Pemikiran Syed Naquib AlAttas” dalam www.inpasonline.com, di akses pada 20 Desember 2019.

[2] Zainal Habib, Islamisasi Sains. (Malang: UIN Malang Press, 2007), 47

[3] Perves Hoodbhoy, Islam dan Sains (Bandung: Pustaka, 1997). 02

[4] Perves Hoodbhoy, Islam dan sains…. 123-124

[5] http://repo.iain-tulungagung.ac.id/5831/5/BAB%202.pdf diakses pada 20 November 2019

[6] Syahrial, Islamisasi Sains dan Penolakan Fazlurrahman. Journal  Lentera, Vol 01, No 01 Juni 2017. 70

Researcher at Pondok Pesantren Al-Khoirot | + posts

Santri Ma'had Aly Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang, asal Lumajang yang sedang menempuh program Studi Doktoral Islamic Education Management di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sebagai peneliti di bidang manajemen pendidikan Islam dengan fokus kepemimpinan dan mutu pendidikan. Karya-karya tulis ilmiahnya dapat diakses melalui akun Google Scholar

Avatar

Muhammad Amin Fathih

Santri Ma'had Aly Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang, asal Lumajang yang sedang menempuh program Studi Doktoral Islamic Education Management di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sebagai peneliti di bidang manajemen pendidikan Islam dengan fokus kepemimpinan dan mutu pendidikan. Karya-karya tulis ilmiahnya dapat diakses melalui akun Google Scholar