ArtikelKeislaman

Ibadah Kurban Sebagai Ekspresi Cinta Sesama Hamba

Kurban merupakan salah satu ibadah yang di anjurkan  dalam agama Islam dan ibadah ini memiliki kaitan erat dengan ibadah haji. Kurban dilaksanakan pada hari raya Idul Adha yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah, bulan terakhir dalam kalender Islam.

Kurban merupakan wujud syukur kita kepada Allah SWT atas segala kenikmatan yang telah diberikan kepada kita semua, bahkan apabila kita ingin menghitung nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita, tentunya kita tidak akan sanggup untuk menghitungnya, hal ini sebagaimana firman Allah yang artinya: “Jika kalian akan menghitung nikmat-nikmatku (kata Allah), tentunya kalian tidak akan sanggup untuk menghitungnya”.

Berdasarkan ayat tersebut, kita dipersaksikan untuk bersyukur atas segala anugerah yang diberikan Allah kepada kita. Salah satu cara untuk mengekspresikan rasa syukur ini adalah dengan berkurban, sebagaimana yang disebutkan dalam surat al-Kautsar ayat 1-2: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” Ayat ini mengisyaratkan bahwa sebagai tanda terima kasih, kita diminta untuk mendirikan sholat sambil berkurban. Dengan demikian, ayat ini menegaskan bahwa ibadah seseorang belum lengkap tanpa berkurban.

Adapun hukum melaksanakan ibadah kurban menurut para ulama adalah sunah muakkadah, yaitu ibadah yang sangat dianjurkan bagi orang muslim yang berkeadaan mampu. Ketentuan mampu di sini tidak selalu identik dengan orang kaya, artinya orang yang melaksanakan ibadah  kurban tidak musti harus orang kaya. Dalam pandangan mazhab Syafi’i, apabila seseorang masih mempunyai sejumlah uang di luar kebutuhan dan biaya hidupnya pada hari raya idul adha dan tiga hari berikutnya, yakni hari-hari tasyriq (ayyam al-tasyriq), maka baginya telah berlaku kewajiban untuk berkurban. Dan perlu diperhatikan bahwa berkurban itu tidak hanya cukup sekali dalam seumur hidup, tetapi selama memiliki kemampuan, maka setiap tahun kita berkewajiban untuk berkurban.

Ibadah kurban merupakan bukti syiarnya agama Islam, hal ini terbukti seluruh umat Islam menyelenggarakan pemotongan hewan kurban setiap tahunnya, Kurban juga memiliki makna spesial dalam agama Islam. Selain sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, Ibadah kurban juga merupakan bentuk exspresi cinta sesama hamba yang diwujudkan melalui nilai-nilai sosial dan kepedulian terhadap sesama. Melalui kurban, umat Muslim diajarkan untuk berbagi rezeki dengan orang lain, terutama mereka yang kurang beruntung.

Salah satu bentuk exspresi cinta sesama hamba yang di wujudkan melalui ibadah kurban yaitu setiap hari kurban masyarakat fakir, miskin, orang tidak mampu, bahkan orang mampu sekalipun mendapatkan daging kurban, daging kurban tersebut kemudian bisa dinikmati dengan keluarga dan kerabat. Yang seharusnya orang tidak mampu tidak bisa merasakan nikmatnya daging karena tidak memiliki uang untuk membeli, namun dengan adanya kurban dalam agama islam maka mereka juga dapat menikmati nikmatnya makan daging bersama keluarganya.

Ibadah kurban juga bisa menjadi sarana untuk mengurangi akan keburukan-keburukan atau dosa-dosa kita selama di dunia, hal ini sebagaimana hadis Rasulullah SAW yang artinya: “Ketahuilah sesungguhnya kurban-kurban yang kalian lakukan (kurbankan) akan menjadi penyelamat bagi kalian (para pelaku kurban) dari keburukan dunia dan keburukan akhirat ”.

Rasulullah SAW sangat menentang dan mengancam orang-orang yang enggan atau tidak mau berkurban, seperti yang disampaikan dalam hadis beliau: “Siapa pun yang mampu untuk berkurban tetapi menolak melakukannya, maka dia akan mati dengan keadaan seperti orang Yahudi atau Nasrani.” Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga mengatakan: “Orang yang mampu berkurban tetapi menolak melakukannya, maka dia tidak boleh mendekati tempat ibadah kita.”

Dari ayat dan hadis Rasulullah SAW, terlihat bahwa berkurban memiliki makna yang sangat mendalam. Berkurban tidak hanya berfungsi sebagai penolong dari kesulitan di dunia dan akhirat, tetapi juga sebagai cara untuk menyempurnakan ibadah. Oleh karena itu, berkurban dapat dilihat juga sebagai peng exspresian cinta sesama hamba. Penting untuk memahami berkurban tidak hanya dari segi literal, tetapi juga dari konteksnya secara menyeluruh.

Dapat di artikan bahwa berkurban tidak hanya terbatas pada penyembelihan hewan seperti yang biasa dilakukan pada Hari Raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq, tetapi juga dapat berupa kontribusi dalam berbagai bentuk lainnya, seperti harta, tenaga, pikiran/ide, waktu, dan sebagainya. Ini sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW yang menyatakan: “Siapa pun yang memiliki ilmu, hendaklah dia berbagi ilmunya; siapa pun yang memiliki harta, hendaklah dia menyumbangkan hartanya; dan siapa pun yang memiliki kekuatan/tenaga, hendaklah dia memanfaatkannya.”

Namun, dalam masyarakat masih terdapat banyak individu yang menolak untuk berkurban. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh kurangnya pemahaman akan pentingnya berkurban, tetapi juga karena sikap pelit. Oleh karena itu, diperlukan upaya sosialisasi yang intensif untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya berkurban, baik dalam bentuk penyembelihan hewan pada waktu yang ditentukan maupun dalam bentuk kontribusi lainnya. Dengan demikian, diharapkan tidak ada lagi individu yang pelit atau menolak untuk berkurban, sehingga semangat kepedulian terhadap sesama dapat diwujudkan dan dirasakan bersama-sama.

Dengan demikian ibadah kurban mengandung pesan substansial agar kita selalu termotivasi untuk membantu meringankan penderitaan orang lain, sehingga makna berkurban adalah bagaimana kita bisa berbagi kepada sesama yang di maknai juga dengan bentuk exspresi cinta sesama Hamba. Wallahualam bishawaf.

Avatar
Fikra Awla