Sastra

Durasi Waktu – Gadis Bermata Bening (seri-1)

DURASI WAKTU

Seri  1: Gadis Bermata Bening

Waktu sudah terlampau larut untuk kehidupan malam, masa dimana kebanyakan orang telah nyennyak oleh beratnya kantuk dan tenggelam dalam kehangatan selimut. Jalanan  yang biasa padat oleh hiruk pikuk sirkulasi arus kendaraan juga mobilitas kegiatan, seketika begitu lenggang, meninggalkan satu, dua kendaraan yang masih lalu lalang. Kota yang biasa penuh oleh kegiatan juga keramaian, sekejap membisu, menyisakan pendaran cahaya lampu kota yang memanjakan mata. Begitupun terik di siang hari telah menjelma dingin yang begitu menggigit, tinggallah kehampaan gelap, cengkrama hangat dentingan merdu sendok dan cangkir kopi yang saling beradu, berteman gelak tawa dan bumbu isu-isu terkini juga topik terhangat.

Disisi lain, bulan bersinar malu-malu, karena sebagian pancaran cahayanya telah bertahta dibulatnya bola mata nan bersih milik gadis kecil berpipi gembul. Tampaknya ia begitu asyik menyeka muka air sungai yang begitu tenang.

“apakah menjadi besar itu menakutkan, kek?” begitu landai angin berhembus meniup jilbab miliknya satu-satunya, yang sudah nampak lusuh dimakan oleh waktu. “tidak, justru lebih menyenangkan.” Kakek masih berusaha berjalan ke tepian sungai, setelah merasa cukup dengan hasil tangkapan ikan dari perangkap anyaman bambu yang ia pasang kemarin. “tapi…..apakah nantinya mutiah akan selalu bersama kakek?” keheningan seketika menelisik diantara keduanya beberapa saat,  kakek menghela nafas bagitu berat. “setiap orang pasti akan merasakan yang namanya ditinggalkan ataupun meninggalkan…..” senyap sesaat. “kelak, jadilah kamu seperti bulan di langit itu, ia selalu hadir dan melalui fase-fase kehidupannya, meski terkadang tidak bercahaya, tapi pada akhirnya ia akan muncul dengan pendaran cahaya yang begitu terang.” Dua insan itu sma- sama menularkan kebisuan pada keheningan malam, tampak ketegaran yang mereka tunjukkan ternyata menyimpan kerapuhan yang begitu renta, ada ketakutan yang terus membayangi.

Malam merangkak menemui puncak fasenya, yang terpaksa menghentikan pertualangan kakek dan mutiah seharian memulung, dengan menempuh jarak berkilo-kilo meter ditambah dinginnya air sungai yang membirukan kaki, telah membuat mereka berdua kelelahan, disaat seperti inilah kenyamanan tikar usang yang ppenuh tambalan akan menjadi tempat yag paling didambakan,  Semesta di malam ini merekam jejak keduanya.

“tempat apa itu. Kek, yang dekat persimpangan? Mengapa begitu ramai oleh orang dan lampu warna-warni, musiknya pun dinyalakan dengan keras.” Mutiah teringat sosok pemuda yang menatapnya lekat dari keramaian tempat itu, setiap kali mutiah dan kakek lewat. “itu namanya diskotik, tempatnya orang-orang yang suka mmenyia-nyiakan waktu dan uangny, tempat yang penuh dengan hal yang tidak disukai Allah.” Pandangan mutiah menerawang pada langit-langit rumah, mengulas ingatannya pada orang-orang yang hampir setiap hari keluar masuk dari tempat itu dengan gelak tawa.

“sudah ayo tidur, esok harus bangun pagi-pagi untuk sholat tahajjud.” Kakek berbaring di samping mutiah cucu kecilnya itu lalu memejamkan mata rembulannya. “kapan saya punya banyak waktu seperti mereka, sehingga sempat untuk bersenang-senang ya Allah?” ucapnya begitu lirih, hampir tidak bosa didengar oleh siapapun.

“Gubrak!”

Waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari, mata mutiah yang sejak 2 jam lalu dipaksa memejam, seketika terbuka. Ia mengedarkan pandangannya, nampak tidak ada keributan di dalam rumah, kakeknya pun masih terlelap dalam tidurnya.

Dengan penasaran, gadis kecil itu mmengendap-endap pergi keluar rumah untuk memastikan.

“Astaghfirullah!” mutiah terkejut, seketika membekap mulitnya, betapa tidak mengejutka, ia mendapati sosok pemuda terkapar di depan rumahnya, nampaknya ia jatuh menabrak tumpukan rongsokan kakek. Gadis itu terdiam mencoba mengamati wajah sang pemuda. “bukankah dia yang selalu ada di tempat keramaian itu?” tanyanya pada diri sendiri, dengan segera mutiah kembali masuk lalu keluar membawa segelas air putih. “tuan apakah anda butuh air?” tangan mungilnya menggoyang-goyangkan bahu pemuda itu, tidak lama, badannya menggeliat lalu bangkit untuk duduk menerima segelas air dari mutiah. “tuan, apa yang anda lakukan di tempat keramain itu?” mata pemuda itu memicing tajam, tangannya meremas rambut sambil membuang nafas kasar efek pusing dari minuman keras yang belum juga hilang. “apalagi kalau bukan menghabiskan waktu untuk bersenang-senang.”  “wah berarti anda punya banyak waktu ya?” mutiah berlari menghambur ke dalam rumah tanpa menunggu jawaban lawan bicaranya. Tidak lama gadis kecil itu keluar membawa sesuatu di belakangnya, mutiah terlihat ingin mengungkapkan suatu hal, tapi dia begitu malu juga takut. “emm……apakah tuan berkenan memberikan sedikit waktu tuan untuk saya?” dahi pemuda itu mengkerut, ia mencoba mencerna ucapan gadis itu. “kenapa kamu minta pada saya?”

“kata kakek, orang yang ada di tempat keramaian itu suka menyia-nyiakan uang dan waktunya, jadi saya ingin meminta waktu tuan dari pada habis tuan sia-siakan.” Bola mata bulat yang bersih itu semakin bersinar di bawah naungan cahaya bulan purnama, membuat mata pemuda itu tidak bisa berpaling, terpana.

“lagi pula apa yang akan kamu lakukan dengan waktu itu?” mutiah nampak ragu untuk menjawab, ia kembali tertunduk murung. “saya ingin punya banyak waktu agar bisa melalkukan banyak hal, saya ingin membantu kakek sepanjang hari untuk mencari rongsokan,  tapi tetap masih bisa ikut mengaji di sore hari, karna hampir setiap hari saya menghabiskan waktu membantu kakek, sehingga jarang masik ngaji.”

Gading yang hampir menginjak usia 7 tahun itu semakin tertunduk, suaranya parau, ia menyembunyikan genangan air mata dipelupuknya.  “saya ingin menjadi anak yang sholihah…. sejak kecil saya sudah kehilangan waktu bersama orang tua, tidak pernah menatap bahkan berjumpa, saya belum sempat membuat mereka bangga. Tapi, setidaknya masih ada kakek. Jadi kelak di surga, kakek bisa menjadi saksi agar ayah  dan ibu lebih percaya kalau saya sudah bejuang.”

Mutiah menjeda dengan senyum meringis, menampakkan deretan giginya yang sudah tinggal 2 buah, tapi air matanya tidak bisa berbohong, bendungannya telah runtuh mengalirkan butiran air sebening kristal. “saya ingin lebih lama bersama kakek, agar beliau bisa melihat saya tumbuh dan merasa bahagia bersama saya. Setidaknya, walaupun saya tidak bisa membahagiakan orang-orang yang saya sayang di dunia, paling tidak saya mampu menjadi alasan mereka terhindar dari api neraka.”

Tenggirokan pemuda itu tercekat, dadanya sesak seperti tertohok, ia tidak mampu berkata-kata, untuk kesekian kalinya, ia terpana. “untuk itu tuan, bolehkan saya membeli waktu anda, dan berkenankah menunggu sampai saya mampu memenuhkan celengan ini?” tangan mungil itu tampak kesusahan menyodorkan celengannya yang sudah terisi setengah, wajahnya begitu polos sangat meneduhkan, menyimpan harapan pada pemuda itu. Sedang lawan bicaranya masih tertegun, tidak terasa air matanya tumpah begitu saja, ia tidak mampu menjawab, kini hatinyalah yang berbicara menumpahkan segala rasa.

Next ….. durasi waktu

Seri 2: Air mata embun

Afni Oktafia

Santri Dewasa at Pondok Pesantren Al-Khoirot.com | + posts

Asal Yogyakarta yang sedang mengikuti progam Santri Dewasa Al-Khoirot

Avatar

Afni Oktafia

Asal Yogyakarta yang sedang mengikuti progam Santri Dewasa Al-Khoirot