Artikel

Dunia Menuju Kenyataan yang Sesungguhnya?

“Das Sein”, “Das Sollen”, frasa dalam disiplin Filsafat diartikan “kejadian nyata”, “kenyataan semestinya”. Secara berurutan menggambarkan pemetaan arti realita yang berbeda antara kenyataan dan yang semestinya terjadi. Semestinya dalam artian kebenaran. Dikatakan berjarak antara kesemestian dengan kenyataan.

Secara sederhana istilah tersebut menghendaki gambaran kenyataan yang ideal. Dua istilah yang muncul bersamaan di era modern dalam perkembangan filsafat.

Beberapa dekade terakhir, isu kesenjangan sosial, tirani politik berupa persoalan kemanusiaan sebagai penerjemahan dari ketidakadilan mulai jarang terdengar gaungnya.

Seiring perkembangan yang disebut perkembangan zaman manusia seolah mulai menyesuaikan perkembangan diri dengan yang sebelumnya mereka sebut tantangan.

Mungkin faktor lain, isu yang sering dibicarakan selain perihal sosialitas di atas menghanyutkannya, menjadikan tema-tema besar. Kemungkinan lain, proyek kemanusiaan bergeser dari persoalan-persoalan menjadi kritik terhadap kenyataan. Apa apa dengan dunia?

Saat kepedulian sosial menjadi pembentukan manusia-manusia secara individu yang saling mengambil jarak, saling mempedulikan, maka jadilah hubungan sosial. Suatu perkembangan cara hidup, tidak hanya cara pikir dan perihal bagaimana merasakan, dewasa.

Dikatakan sebagai satu gambaran dari satu sisi, namun secara bersamaan pengalaman masa lalu terhadap berbagai kejadian, menjadi bahan evaluasi dalam menjalankan kehidupan manusia ke depannya.

Refleksi terhadap kesalahan masa lalu, dilakukan secara berbeda atau mungkin sama, namun dengan tujuan perbaikan. Sebaliknya, kebaikan terus ditambah dan untuk senantiasa ditingkatnya, seperti kualitasnya.

Hal ini sesunggungnya kenyataan yang sebenarnya dijalani manusia, yaitu perbaikan kesalahan dan peningkatan kebaikan. Realita atau baru sekedar mimpi yang tidak tercapai di masa lalu diterjemahkan secara positif sebagai harapan.

Namun tidak dengan apa yang disebut dengan dunia, berupa kemewahan, kenikmatan materi dan keindahannya mulai dimaknai sebagai kenyataan sesungguhnya dunia. Dikatakan mulai, sebagai ruang untuk masuknya kemungkinan perkembangan.

Walhasil, dunia menjadi terasa “sempit” secara eksisntesial. Sebab, satu sisi kesadaran akan hakikat dunia berupa kemewahan sebagai perhiasan dunia, menjadikannya dalam kesedaran manusia bersifat fana. Kesadaran demikian menjelma sikap dalan menjalani kehidupan.

“Kritik terhadap kenyataan” sebagai titik awal dalam diskursus zaman ini bisa jadi lahir dari angan-angan yang disikapi. Seolah menjadi tumpuan, kenyataan dengan realita ideal terpisah oleh kritik. Sikap mengkritik, menjelma jembatan yang menyatukan keduanya.

Berbagai hal yang dahulu sungkan untuk dilakukan, manusia zaman ini mulai memiliki alasan untuk melakukannya. Dalam Filsafat dikenal ungkapan, “setiap orang adalah filsuf, sebab setiap orang punya pandangan hidup”, maka zaman ini kiranya kian terang-benderang, mungkin meski tidak sepenuhnya secara esensial.

Sehingga, kenyataan dengan kebenaran nampaknya telah menyatu sebagai jalan hidup manusia. Melalui kritik, realitas semakin mengarah ke semestiannya. Realitas dengan idealitas menyatu atau terjembatani oleh kritik, atau mungkin baru mendekat saja: biar dapat dikatakan dinamis.

Baca juga : Salah Mengartikan antara Roja’ dan Ummiyah

+ posts

Penulis Lepas Yogyakarta

Avatar

Nazwar, S. Fil. I., M. Phil.

Penulis Lepas Yogyakarta