Bahasa ArabPendidikan

Cara cepat belajar membaca kitab kuning

Cara cepat belajar membaca kitab kuning

Pada pertengahan tahun 2022, rombongan santri putri dari sebuah pesantren modern datang ke Al-Khoirot. Mereka melakukan study banding untuk mengenal dekat segala hal yang berkaitan dengan pesantren Al-Khoirot. Khususnya pesantren putri. Kedatangan mereka disambut oleh pengurus dan dewan pengasuh pondok putri (semuanya perempuan).

Daftar isi

  1. Penguasaan Mufradat (kosa kata)
  2. Penguasaan Gramatika (Nahwu Sharaf)
  3. Praktek membaca kitab besar yang belum ada terjemahannya

Salah satu pertanyaan menarik yang mereka ajukan adalah: bagaimana Al-Khoirot mendidik santri agar bisa cepat membaca kitab kuning? Tidak ada satupun dari tuan rumah yang dapat menjawab pertanyaan ini dengan baik dan memuaskan. Tulisan ini akan menjawab secara ringkas dan jelas sistem yang digunakan Al-Khoirot untuk pembelajaran membaca kitab kuning. Yang pada dasarnya terdiri dari tiga hal: penguasaan mufradat (kosa kata), penguasaan gramatika nahwu sharaf dan praktik baca kitab.

1. Penguasaan Mufradat (kosa kata)

Mana yang lebih dulu untuk dipelajari antara mufradat dan gramatika? Saya berpendapat, mufradat lebih didahulukan.

Sebab, banyak orang Arab yang hanya tahu mufradat tanpa tahu gramatika. Tapi mereka mampu membaca kitab kuning atau kitab modern. Walaupun bacaan i’rabnya kurang akurat, namun pemahamannya valid. Sebagaimana kita bisa berbicara dan membaca buku bahasa Indonesia walaupun tidak tahu gramatika bahasa Indonesia. Jadi, penguasaan kosa kata bahasa Arab adalah yang pertama dan utama dimiliki oleh pelajar yang ingin bisa membaca kitab kuning.

Namun demikian, untuk menuju kesempurnaan, penguasaan gramatika nahwu-sharaf adalah keniscayaan.

Di pesantren salaf, seperti Al-Khoirot, kitab klasik yang jadi prioritas kajian adalah kitab yang mengkaji fikih. Maka, mufradat utama yang dihafal biasanya diambil dari kitab-kitab fikih.

Penguasaan mufradat di Al-Khoirot

Penguasaan mufradat Arab klasik di Al-Khoirot dilakukan melalui materi ajar Baca Kitab di Madrasah Diniyah. Materi ini dimulai dari kelas 4, 5 dan 6 ibtidaiyah dan kelas 1 dan 2 tsanawiyah diniyah.

Caranya adalah:

  • santri diberi tugas untuk membaca setengah hafal pada kitab kuning fikih yang sesuai dengan kelasnya.
  • lalu, mereka akan menyetor bacaan yang setengah hafal itu di depan guru atau sesama murid yang ditunjuk oleh guru dengan cara membaca kitab versi gundulnya alias kitab kosong yang tidak ada harkat dan tidak ada maknanya.
  • kitab yang diharuskan setengah hafal itu adalah kitab yang ada terjemahan makna Jawa ala pesantren (disebut makna tarkib) dan ada terjemahan Indonesianya.
  • pada saat setoran baca kitab itu santri harus membaca bahasa Arabnya disertai dengan makna tarkib (makna Jawa lengkap dengan status i’rabnya) dan diakhiri dengan terjemahan bebas bahasa Indonesia. Kitab yang dibaca saat setoran adalah kitab kosong.


2. Penguasaan Gramatika (Nahwu Sharaf)

Menguasai gramatika bahasa Arab tentu sangat penting. Tanpa gramatika, kemampuan membaca dan memahami teks literatur Arab klasik akan terasa sulit. Terutama untuk kitab-kitab kuning klasik tingkat lanjut dengan analisis mendalam (al-mutawwalat).

Gramatika bahasa Arab terbagi dua yaitu ilmu nahwu dan ilmu sharaf. Dalam kiab-kitab gramatika klasik, keduanya sering ditulis dalam kitab yang berbeda. Misalnya, kitab nahwu dasar adalah Ajurumiyah atau Imriti, sedangkan kitab sharaf dasar adalah Kailani dan Nadzham Maqsud.

Ilmu nahwu untuk mempelajari tata bahasa huruf akhir suatu kata. Baik kata kerja (fi’il) maupun kata benda (isim). Sedangkan ilmu sharaf berfungsi untuk mengkaji tata bahasa huruf awal dan tengah. Misalnya, perhatikan kata kerja berikut:

يُشَاهِدُ عُمَرُ الِسيْنَمَا

Artinya: Umar menonton bioskop.

Kata “يُشَاهِدُ” (menonton). Huruf akhirnya, yakni dal, berharkat dhammah. Mengapa? Jawabannya memerlukan ilmu nahwu. Sedangkan huruf awal sampai sebelum akhir yakni huruf ya’, syin, alif, ha’ mengapa berharkat seperti itu? jawabannya dapat diterangkan melalui ilmu sharaf.

Buku yang dianjurkan untuk ilmu nahwu adalah sbb:

Buku untuk ilmu sharaf yang dianjurkan adalah sbb:


3. Praktek membaca kitab besar yang belum ada terjemahannya

Setelah menguasai sedikit kosa kata Arab klasik dan memahami gramatika ilmu nahwu dan sharaf, maka tiba waktunya untuk berlatih dengan memperbanyak membaca kitab kuning kosong yang tidak ada terjemahannya sama sekali.

Di Al-Khoirot praktek membaca kitab ini dilakukan dengan dua cara:

Pertama, mutala’ah dan sorogan

Santri mendapat tugas untuk membaca kitab di depan pengasuh. Ini disebut sorogan. Kitab yang dibaca belum ada versi terjemahannya sama sekali. Seperti Al-Muhadzab, Fathul Wahab dan Al-Iqna’. Untuk mempersiapkan diri, santri pada malam harinya melakukan kegiataan mutala’ah atau belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil. Yang dipersiapkan adalah makna setiap kosa kata, kedudukan i’rabnya serta pemahamannya. Besoknya, mereka akan ditunjuk secara acak oleh pengasuh untuk membaca versi makna tarkib (makna Jawa utawi-iku) dan versi bahasa Indonesianya.

Kedua, bahsul masail

Dalam bahsul masail, santri berusaha mencari solusi atas permasalahan yang diajukan melalui literatur kitab kuning yang tebal-tebal. Mereka tidak pernah mengkaji kitab-kitab tersebut. Jadi, mereka memanfaatkan kosa kata dan ilmu gramatika yang dimiliki untuk memahami kitab-kitab tersebut. Tentu, kalau ada kosa kata yang belum pernah ditemui mereka akan merujuk pada kamus yang ada. Baik kamus Arab-Indonesia atau Arab-Arab.

Dari ketiga tahapan di atas itulah, santri Al-Khoirot mengembangkan kemampuannya dalam membaca kitab kuning. Demikian juga santri-santri pesantren salaf yang lain.

Santri modern atau bahkan bukan santri bisa juga melakukan hal yang sama dengan mengikuti cara di atas dan berlatih secara disiplin.

Ahmad Fatih Syuhud
 | Website

A Fatih Syuhud; adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang. Penulis masalah Islam, pendidikan, pesantren dan politik. Tulisan opininya yang pernah dimuat di Kompas, Republika, dan lain-lain sudah dibukukan dengan judul, Islam dan Politik: Sistem Khilafah dan Realitas dunia Islam. Catatan Harian-nya di fatihsyuhud.com (dalam Bahasa Inggris) pernah dinobatkan Majalah Tempo (edisi 6 Agustus 2006) sebagai #1 dari 10 Penulis Blog Terbaik. Di Al-Khoirot mengajar kitab berikut: Tafsir Jalalain, Sahih Bukhari, Al-Umm, Muhadzab, Fathul Wahab, Iqna' dan Ibanah al-Ahkam.. Buku-buku yang sudah terbit dapat dilihat di Google Play Store.

Avatar

A. Fatih Syuhud

A Fatih Syuhud; adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang. Penulis masalah Islam, pendidikan, pesantren dan politik. Tulisan opininya yang pernah dimuat di Kompas, Republika, dan lain-lain sudah dibukukan dengan judul, Islam dan Politik: Sistem Khilafah dan Realitas dunia Islam. Catatan Harian-nya di fatihsyuhud.com (dalam Bahasa Inggris) pernah dinobatkan Majalah Tempo (edisi 6 Agustus 2006) sebagai #1 dari 10 Penulis Blog Terbaik. Di Al-Khoirot mengajar kitab berikut: Tafsir Jalalain, Sahih Bukhari, Al-Umm, Muhadzab, Fathul Wahab, Iqna' dan Ibanah al-Ahkam. . Buku-buku yang sudah terbit dapat dilihat di Google Play Store.